Talented people need organization

Kata orang, bakat adalah sesuatu yang tumbuh alami. Kata saya: tidak selalu. Pada dasarnya setiap manusia memiliki kecenderungan untuk expertise pada hal-hal tertentu yang kemudian disebutnya itu sebagai bakat. Kecenderungan-kecenderungan itu akan tumbuh menjadi bakat ketika sedini mungkin tertemukan momennya, entah momen itu disengaja ataukah tidak. Seseorang yang berbakat memainkan piano, misal, tidak akan tumbuh atau bahkan mengerti bahwa dirinya berbakat, sebelum ia memainkan piano. Momen memainkan piano pertama kali itulah yang menentukan kapan bakat itu ditemukan. Bagaimana—misal: orang tua—menciptakan momen, itulah tantangannya. Namun, bagi saya, semua hal itu tetaplah hanya sebuah kecenderungan.

Dalam pengembangannya, setiap bakat membutuhkan organisasi, memerlukan pengelolaan. Sungguh suatu hal yang naif, jika seseorang merasa dirinya berbakat lalu meninggikan dirinya sendiri, seakan-akan dengan bakatnya itulah semua hal bahkan orang-orang di sekitarnya tergantung pada bakat dirinya itu. Namun hal itu masih agak lumayan. Tidak sedikit orang yang saya temui, terlihat sangat berbakat namun berakhir dengan kesia-siaan karena tak adanya pengelolaan yang baik. Pada akhirnya, bakatnya bahkan tak memberi manfaat bagi banyak orang.

Dengan premis di awal tulisan ini, bahwa pada dasarnya setiap manusia adalah berbakat, maka orang-orang yang mempunyai kemampuan pengelolaan yang baik, sangat bisa dikatakan bahwa itu juga sebuah bakat.

Berhentilah meninggikan hati. Belajarlah untuk bekerjasama, bahwa yang disebut sambal adalah pengelolaan yang baik antara cabe, bawang, garam dan lainnya. Semua orang berbakat, dan yakinlah bahwa kita semua diciptakan untuk saling berpasangan, bekerjasama satu dengan yang lain. Memadukan bakat, mengorganisir bakat.