Melanggar Aturan Untuk Kreativitas

Ungkapan “aturan dibuat untuk dilanggar” bisa menjadi sebuah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan korelasi dari keduanya. Kita tahu, kreativitas bukanlah produk/output, tetapi sebuah proses dalam memproduksi sebuah produk, ide, dll. Kreatifitas yang selalu kita ibaratkan dengan ungkapan “out of the box” tentu berkaitan dengan “box” itu sendiri yang bisa dimaknai sebagai aturan-aturan, atau kaidah/norma yang berlaku linier di masyarakat. Agar anda ”out of the box” maka tak lain akhirnya cenderung untuk melanggar hal-hal yang sebelumnya dianggap normatif. 

Dalam dunia politik, fenomena gaya kepemimpinan yang egaliter, merakyat, horisontal –istilah gaya kepemimpinan horisontal dipopulerkan oleh Prof. Hermawan Kertajaya untuk menggambarkan gaya Jokowi yang horisontal dan Prabowo yang vertikal– yang kini ‘diidam-idamkan’ oleh sebagian besar masyarakat, juga bentuk dari kreativitas dalam upaya untuk berpikir dan berperilaku “out of the box” dalam mengkreatifi bentuk kepemimpinan vertikal pada era sebelumnya.

Kita bisa pahami, jika kita tempatkan kreativitas sebagai sebuah proses (bukan output) maka kreativitas itu sendiri mustinya bebas nilai. Ia tak terikat dengan benar atau salah, baik atau buruk. Kreativitas seperti mesin, alat, atau ibarat mobil yang anda bisa gunakan (mobil itu) untuk merampok atau menjemput teman yang sedang butuh tumpangan ke rumah sakit.

Koruptor, kita bisa yakini adalah individu-individu yang punya daya kreativitas tinggi. Mampu memainkan celah-celah aturan yang ketat, berani “out of the box”.

Maka tidak bisa pendidikan hanya berhenti pada “menjadi generasi kreatif”. Kreativitas mesti dijaga dengan nilai-nilai, agar produk/output yang dihasilkan oleh kreativitas itu bukan saja menjadi manfaat namun juga terjaga nilai-nilai kebenaran dan kebaikannya.

Tampaknya, hal ini juga didukung oleh ilmuwan Scott Wiltermuth dan Gino, asisten Professor dari Sekolah Bisnis di University of Southern California saat menyampaikan dua tes eksperimennya yang menunjukkan korelasi antara deceptiveness atau kemampuan untuk menipu (menipu yang dimaksud disini tak selalu berarti buruk, misal: pemain sepakbola diukur tingkat keahliannya dari kemampuannya menipu lawan) dan inventiveness atau kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Tes pertama, para peneliti ini, menyiapkan pra-kondisi agar seseorang nyaman melakukan ketidakjujuran. Riset diikuti oleh ratusan partisipan. Peneliti menanyakan, apakah partisipan bisa mengerjakan soal-soal matematika (yang soalnya belum mereka ketahui, jadi para partisipan ini tidak tahu apakah bisa atau tidak) yang jika jawaban dari soal itu nanti benar maka mereka mendapat uang, jika jawabannya salah tidak ada hukuman apa-apa. Semua partisipan menjawab: bisa. Kemudian para partisipan mengerjakan soal tanpa pengawasan. Ketika selesai, partisipan cukup menyampaikan saja hasil jawabannya. Dalam proses pengerjaan soal itu, tidak ada yang tahu, bahwa mereka sebenarnya sedang diawasi.

Hasilnya: hampir 60 persen dari partisipan tidak jujur sejak awal, mengatakan bahwa mereka bisa menjawab soal itu, dan nyatanya tidak bisa. Mungkin ini disebabkan dari motivasi untuk mendapatkan kompensasi uang.

Tes kedua, dilakukan tes yang berkaitan dengan remote associates, salah satu variabel dari kreativitas. Partisipan diminta untuk menjawab secara spontan suatu kata yang berasosiasi dengan kata yang disebut sebelumnya. Misal: “nyeri, pundak, keringat” kemudian dijawab “flu”. Metode remote associates banyak digunakan untuk mengukur tingkat kreatifitas seseorang.

Data yang diperoleh Gino dan Wiltermuth menunjukkan, orang-orang yang berbohong pada tes pertama, lebih baik dalam task remote associates pada tes kedua, jauh dibanding lainnya. Kesimpulannya: bahwa perilaku melanggar aturan berfungsi primer sebagai pemicu pemikiran yang kreatif, out-of-the-box.