Pemilihan Direktur Utama Republik Indonesia

Sekilas saja saya menulis. Memperhatikan maraknya diskusi mengenai capres akhir-akhir ini – bolehlah dikatakan “diskusi” karena saya malas menggunakan kata “twittwar” atau “debat kusir” karena saya menghargai semua pendapat. Baik atau buruk, benar atau salah, musti dihargai sebagai bagian dari proses tumbuhnya kesadaran setiap individu.

Tulisan ini juga bukan untuk mendukung salah satu capres, sebab saya tak terlalu peduli dengan menu pencapresan di restoran demokrasi Indonesia. Peduli, tapi tak terlalu peduli. Masuk ke pikiran tapi cuma di teras-terasnya saja, gak sampai masuk ke kamar tidur, apalagi masuk ke hati saya. Dilarang.

Ada tiga (bakal) calon Presiden sampai tulisan ini di publish, sebut saja Bapak Joko Widodo, Bapak Aburizal Bakrie dan ketiga Bapak Prabowo Subianto. Saya mesti membiasakan menulis nama lengkap mereka, karena salah satu dari mereka, suka atau gak suka, akan jadi Presiden Negara Republik Indonesia.

Yang mesti dipahami, ‘presiden’ bukan ‘pemimpin’. Presiden bisa menjadi Pemimpin, tapi Pemimpin tak harus seorang Presiden. Setiap kita, setiap kelompok bahkan hingga kelompok terkecil, yaitu keluarga, memiliki seorang pemimpin. Pemimpin adalah sifat, karakter, kualitas, bukan jabatan.

2110220104001

Presiden dalam konstitusi memiliki dua peran, yaitu sebagai Kepala Pemerintahan dan sebagai Kepala Negara. Presiden adalah pemimpin bagi bawahannya. Siapa bawahan Presiden? Bawahan Presiden adalah aparat-aparat pemerintahan; Menteri-menteri, gubernur-gubernur, dan segala perangkat-perangkat dibawahnya.

Layaknya seorang pemimpin bagi bawahannya, Presiden punya hak penuh untuk memerintah, maka disebut pemerintahan. Siapa yang bisa diperintah Presiden? Ya bawahannya. Jadi Presiden tidak bisa memerintah Rakyat, apalagi memerintah saya.

Logikanya sederhana, karena Rakyat bukan bawahan Presiden, justru Presiden dan segala perangkat dan aparat dibawahnya digaji oleh Rakyat. Untuk apa digaji, untuk memudahkan urusan-urusan Rakyat. Apa saja urusan-urusan Rakyat? Banyak. Maka Rakyat menyuruh orang-orang cerdik pandai untuk mikirin, apa aja sih urusan Rakyat, mereka disebut Wakil Rakyat. Urusan-urusan Rakyat ini kemudian menjadi Undang-Undang untuk kemudian dijalankan oleh Pemerintah.

Jadi Presiden ini semacam Direktur Utama kalo di Perusahaan (PT), Rakyat ini pemegang saham dan mewakilkan saham itu kepada yang namanya Komisaris atau Wakil Rakyat. Hanya, “perusahaan negara” ini semacam koperasi, dimana pemegang sahamnya juga berlaku sebagai anggota, sebutannya Rakyat.

Dengan nalar seperti tadi, saya kurang pas jika menyebut Presiden sebagai Pemimpin, jika dalam terminologi kepala saya, Presiden itu ya Dirut atau Manager-lah lebih pasnya. Ketinggian jika disebut Pemimpin. Meski, dalam proses alami yang dilakoni seorang ‘direktur’ tentu butuh kualitas-kualitas lebih dari yang lain. Disitulah kualitas Pemimpin dibutuhkan. Jika anda jadi Direktur Perusahaan dengan ribuan bahkan jutaan karyawan, tentu tak semua manusia punya kualitas setinggi itu. Hanya beberapa yang mampu. Karena ‘hanya beberapa’ itu, kadang kita terlalu look-up dan menganggap Presiden seperti Pemimpin, bahkan setengah dewa.

Jika tadi Presiden sebagai Kepala Pemerintahan, bagaimana dengan klasifikasi Kepala Negara? Apa yang dimaksud dengan Negara? Apa bedanya dengan Pemerintahan? Beda. Tapi bagusnya anda tetap mencari sendiri saja jawabnya. Secara teks konstitusi, dan yang paling penting; secara nalar.

Setahu saya, belum ada pemisahan yang jelas antara wilayah Negara dan wilayah Pemerintahan. Jika tadi saya menyebut “aparat-aparat dibawahnya” itu pun termasuk Pegawai Negeri Sipil, karena mereka juga digaji, artinya masuklah mereka dalam Pemerintahan. Tapi apakah mereka pegawai Negara atau pegawai Pemerintah, entahlah.

Jika benar acuan teori dasar kita adalah Trias Politica, dimana pemisahan kekuasaan di bagi pada tiga kelompok besar, yaitu: Eksekutif, Yudikatif dan Legislatif, maka dimana letak Negara dan dimana letak Pemerintah/Pemerintahan. Banyak thesis yang menempatkan bahwa Pemerintahan-lah itu sendiri yang dibagi dengan tiga pola kekuasaan yang disebut Trias Politika itu, namun rasa-rasanya, paling tidak pada pendapat saya, Pemerintahan masuk pada pilar Eksekutif.

Seperti, paling tidak kita ambil contoh dari konstitusi negara Amerika, berikut ini:

trias-politica

Memerintah berarti mengeksekusi. Mengeksekusi Undang-Undang, aturan-aturan, dll. Tentu ini terus akan menjadi bahan diskusi besar. Bukankah Mahkamah Konstitusi (MK), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan sebagainya sering disebut sebagai Lembaga Negara? Maka, secara logika kalimat, bisa dikatakan: Mahkamah Konstitusi dll itu bukan Lembaga Pemerintahan. Jika bukan Lembaga Pemerintahan, maka karyawan dan pimpinannya tidak wajib taat kepada Kepala Pemerintahan dan tidak di gaji sebagai karyawan Pemerintah, namun sebagai karyawan Negara.

Susunan Lembaga Negara RI - Sebelum Amandemen UUD 45

Susunan Lembaga Negara RI - Sesudah Amandemen UUD 45

Pada gambar diatas ini adalah referensi struktur pemisahan kekuasaan di Negara Republik Indonesia. Entahlah, kini mana yang diklasifikasikan sebagai Lembaga Pemerintahan dan mana yang Lembaga Negara, serta apa yang membedakan diantara keduanya. Sebab yang pasti, jikapun ada pemisahan kekuasaan antara Negara dan Pemerintahan, namun secara manajemen keuangan jelas sekali masih terjadi tumpang tindih, apalagi jika urusannya koordinasi wilayah tugas dan fungsi.

Suatu saat, entah 10 atau 20 tahun lagi, kita akan tersadar bahwa masih banyak hal yang mesti “dirayakan” selain pemilihan Presiden. Dan makin tumbuh kesadaran kita, bahwa Presiden adalah kepala “pembantu rumah tangga” di rumah besar kita yang bernama Indonesia.

Semoga Direktur Utama Republik Indonesia berikutnya juga ikut sadar, bahwa yang paling utama dibenahi di Perusahaan-nya bukan para pemegang saham, tapi Karyawan-karyawannya sendiri. ++

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s