Malasnya Kini Membaca Buku

Kekhawatiran yang beberapa tahun lalu saya tulis dengan judul Teknologi Membaca kini makin terasa. Kita perhatikan, teman-teman (khususnya lagi bagi generasi yang lahir di tahun 90-an) kini tampaknya mulai mengalami kesulitan membaca. Bukan malas membaca, tapi intensitas atau boleh dibilang ‘ketahanan’ membaca makin terus berkurang. Media online pastinya punya pengaruh yang tinggi, apalagi banyak aplikasi reader di gadget-gadget terkini.

Dalam artikel di situs The Next Web disampaikan bagaimana suatu website yang ideal di bangun bedasarkan analisis neuroscience. Mata kita, khususnya dalam hal kemampuan membaca, secara rata-rata hanya sanggup membaca 7-9 kata untuk kemudian dilanjutkan prosesnya di otak. Saat kita memindai suatu kalimat dalam sebuah website, saat itu tidak ada proses visual yang bekerja di otak. Mata hanya merekam, kemudian barulah dikirim untuk diproses di otak. Ini mengapa pemilihan font dan layout sangat berpengaruh dalam pembuatan suatu website. Dengan arti kata, makin lama orang membaca sebuah artikel, makin banyak kata yang diserap dalam interval tadi, dan makin banyak informasi pesan yang disimpan di otak.

nytimes-comparisonKenyamanan pembaca ini diyakini sangat berhubungan dengan jenis font dan layout yang digunakan, hal itu merangsang saraf yang berhubungan langsung dengan amygdala, yaitu suatu area pada otak yang merespon emosi. Dengan layout yang tepat, pembaca akan membaca dengan lebih pelan dan nyaman. Memberikan stimulus kognitif tinggi, juga proses mental  yang efisien sehingga pembaca akan lebih cepat terinspirasi dan lebih cepat memberikan reaksi untuk selanjutnya melakukan aksi.

Otak pada dasarnya tidak di ‘desain’ untuk membaca. Tidak seperti kemampuan berbicara dan melihat, tidak ada gen membaca. Membaca adalah proses belajar diluar kemampuan dasar indera. Otak bersifat plastik dan secara konstan ia terus beradaptasi, selama umur hidup kita, termasuk beradaptasi membaca.

Sebelum ada internet, otak membaca secara linier, satu halaman kemudian halaman selanjutnya, terus begitu. Tentu kadang ada kombinasi gambar atau huruf-huruf yang di desain lebih besar dari teks utama, namun itu semua tak dimaksudkan untuk mengganggu. Kadang hanya dengan memperhatikan layout halaman pada sebuah buku (media cetak), kita mampu mengingat kata kunci-kata kunci. Kata kunci ini yang tersimpan dalam data-data di otak.

Internet berbeda. Dengan sekian banyak informasi yang tersaji bersamaan dalam satu halaman; teks hyperlink, video-video, iklan, tautan artikel terkait, belum lagi dengan interaksi disana sini, memerlukan kemampuan adaptasi lebih pada otak kita untuk membuat shortcut-shortcut baru. Proses membaca ini termasuk non-linier, dan secara bertahun-tahun telah menginvasi karakter dasar kita bukan hanya dalam membaca, namun juga dalam menganalisa medium-medium informasi lainnya.

“We’re spending so much time touching, pushing, linking, scroll­ing and jumping through text that when we sit down with a novel, your daily habits of jumping, clicking, linking is just ingrained in you,” said Andrew Dillon, a University of Texas professor who studies reading. “We’re in this new era of information behavior, and we’re beginning to see the consequences of that.”

Entah sudah berapa banyak syntax yang kita hilangkan. Berapa banyak rantai proses yang sudah terputus sambungannya, untuk beradaptasi pada budaya penggalian informasi cepat kini. Belum lagi informasi-informasi cepat di Twitter yang hanya 140 karakter, pastinya sedikit banyak akan menghilangkan proses-proses panjang itu.

Tren design website (khusnya news website) menariknya kini makin bergeser. Dari era gaya friendster, yahoo news dan new york times, dimana terdapat banyak hyperlink di kanan-kiri pada satu halaman, kini bergeser ke era open space atau clear space. Terima kasih untuk apple yang mempopulerkan gaya ini. Situs Apple awalnya ‘dihina’ karena bergaya clear space, namun kini telah menjadi tren design global.

Artikel terkait tren ‘clear space’ bisa dibaca pada tautan berikut: Recent Trends In Storytelling And New Business Models For Publishers

nyt_snowfall_homepage_smallTentu kita menunggu riset-riset lanjutan, apa relasi antara perkembangan pesat media digital dengan rontoknya budaya membaca pada media cetak (baca: buku) di generasi kini. Jika akhirnya pada jangka panjang, hal itu akan menumbuhkan generasi jenis lain, tentu ini harus segera kita pelajari mendalam. 

Rasanya tidak bisa lagi, anak-anak kita musti segera diperkenalkan dengan buku, media fisik, mengenal bukan hanya visual di internet atau gambar, namun harus lebih dari itu; mengalami.

Researchers say that the differences between text and screen reading should be studied more thoroughly and that the differences should be dealt with in education, particularly with school-aged children. There are advantages to both ways of reading. There is potential for a bi-literate brain.

“We can’t turn back,” Wolf said. “We should be simultaneously reading to children from books, giving them print, helping them learn this slower mode, and at the same time steadily increasing their immersion into the technological, digital age. It’s both. We have to ask the question: What do we want to preserve?”

Saya sendiri rindu masa-masa membaca tenang dan fokus. Pada sebuah buku cetak, entah itu novel atau literatur lainnya, kita tak diganggu dengan gambar-gambar iklan, tautan-tautan, bahkan notifikasi dari email, sosial media dll. Saya rindu bagaimana rasanya sebelum tidur membayangkan huruf-huruf di buku itu seperti menari-nari di otak saya, mengganggu cara berpikir, menggoda ideologi.

Saya rindu masa itu, tapi apakah anak-anak generasi sekarang punya kerinduan itu? Anak-anak generasi nanti? Apa kira-kira yang menari-nari di otak mereka seblum tidur? Semoga bukan barisan-barisan kultwitt. ++

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s