Belum Ada Koruptor Ngaku

Dengan banyaknya kasus korupsi yang terungkap di media, paling tidak saya masih punya keyakinan bahwa tidak semua pelakunya punya niat sengaja untuk mencuri uang negara. Pastilah ada sebagian diantara mereka yang khilaf, lalai atau bahkan lupa bahwa perilakunya termasuk tindakan korupsi yang dimasukkan dalam pasal pelanggaran hukum pidana.

Namun, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan para pelaku korupsi acapkali membuat persepsi awal tadi jadi tak sepenuhnya benar. Sejak mereka tertangkap, hingga jatuhnya putusan final, mereka tetap menolak untuk menyatakan bahwa dirinya salah.

Hal seperti ini tak banyak terjadi di negara-negara ‘maju’. Di Jepang misalnya, ketika seseorang dipidana korupsi, seseorang pada akhirnya mengakui bahwa dirinya bersalah. Dan tentu meminta maaf kepada publik, setelah sebelumnya menjalani proses peradilan. Artinya, proses peradilan (hukum) disana, memberikan efek penyadaran kepada si terpidana.

Pada dasarnya manusia memang tempatnya lalai dan lupa. Dengan kesadaran awal seperti itu, mestinya tidak perlu takut untuk mengakui bahwa kita salah dan lalai. Dan daripada membantah atau menantang “Jika saya terbukti korupsi, gantung saya di Monas” tentu akan lebih elegan jika; “Sepanjang saya tahu, yang saya lakukan sudah benar dan mengikuti prosedur. Tapi bisa saja saya lalai, tak sadar jika yang saya lakukan termasuk perilaku korupsi. Maka, adili saya, agar kita semua bisa belajar dari kasus ini.” Dan apabila memang terbukti korupsi sesuai dengan proses acara peradilan, lalu ia mengakui kesalahannya.

Hingga kini, rasanya, tak ada satu orangpun yang melakukan itu. Entah, sistem peradilan yang tak bisa mencapai tingkat penyadaran seseorang, atau pendidikan etika kita yang rendah. Tak heran, dengan banyaknya kasus korupsi, dengan ribuan modusnya, tetap tak memberi pelajaran moral bagi masyarakat kita. ++