Ikhsan

Lagi-lagi, kita dikejutkan berita seorang pejabat publik yang tertangkap tangan menerima suap. Padahal konon dengan jabatan yang ia sandang, gajinya mencapai puluhan juta. Belum lagi tunjangan kesehatan, perumahan dan ini itu. Rasanya sukar dipercaya, dengan fasilitas dan finansial yang berkecukupan, seseorang masih saja punya peluang keinginan untuk korupsi.

Saya banyak percaya, bahwa moralitas tidak paralel dengan gaji atau insentif. Karena orang yang rakus tidak akan pernah puas mengkonsumsi, sampai ia bisa berkompromi dengan dirinya sendiri. Bahkan, seseorang teruji moralitasnya justru ketika ia tidak disuruh untuk tidak melakukan/melakukan sesuatu dengan dorongan motif berupa materi (insentif).

Kalau anda yang membersihkan sampah berserakan di jalananan, dibandingkan dengan petugas sampah yang memang task list-nya membersihkan sampah, tentu punya nilai moralitas yang berbeda dari keduanya, meski tindakannya sama. Seorang pegawai bank yang sorenya nyambi menjadi pengajar di komunitas anak jalanan di sekitar rumahnya, dibandingkan dengan guru professional disekolahan, tentu kadar moralitasnya juga berbeda.

Lalu bagaimana jika petugas kebersihan bukan cuma tidak mengerjakan tugasnya membersihkan sampah, tapi justru mengotorinya? Bagaimana jika aparat yang tugasnya menghukum para pelaku korupsi justru melakukan tindakan korup?

Plato dan Aristoteles keduanya punya kesamaan, menyatakan bahwa kebutuhan manusia akan etika (teori) dan moralitas (praktek) pada dasarnya tumbuh dari ketidaksempurnaan diri mereka, yang termanifestasi dalam dinamika manusia sebagai makhluk yang berpikir (thinking) dan makhluk yang bertindak (willing). Keduanya, baik teori (thinking) atau praktek (willing) itu berakibat pada lingkungan, komunitas dan manusia-manusia sekitarnya. Kant mendeskripsikan situasi paradoks ini sebagai unsociable-sociable being.

Saya tak berminat membahas lebih dalam kajian filsafat tentang etika dan moralitas disini. Hanya mengingatkan kembali, bahwa hal semacam inilah mungkin yang disebut dengan ikhsan yaitu ketika kita melakukan suatu kebaikan yang bukan kewajiban kita. Tentu setelah kita pahami sebelumnya, apa dan bagaimana untuk menjadi muslim dan mukmin.