Motifator

“You’re looking for three things, generally, in a person; intelligence, energy, and integrity. And if they don’t have the last one, don’t even bother with the first two.” [Warren Buffett]

Tak jarang kita dengar kalimat, “Hati-hati. Biasanya yg kata-katanya manis itu kelakuannya bangsat” atau “Jangan dengerin dia, kelakuan sama omongannya gak singkron.” Meski kita tahu dan seringkali diberitahu bahwa ada kalimat bijak “belajar itu bisa dari siapa aja, ilmu darimana aja.” Ambiguitas ini bikin kita terkadang bingung menyikapi.

Seperti kita tahu, keselarasan antara kata dan perbuatan dikenal dengan istilah integritas. Repotnya, untuk tahu integritas seseorang, kita perlu menelusur jauh ke dalam sikap dan perbuatan orang tersebut di kesehariannya.

Pada tingkat awal, bedakan saja dulu antara kata-kata dan perilaku. Kalau anda menemukan kalimat bagus, diterima saja, disimpan sebagai nilai. Jangan selalu menghubung-hubungkan antara kata-kata dengan perilaku orangnya. Jika terus menerus kita bersikap terlalu kritis, hanya mau mendengar dari orang/tokoh yang berintegritas tinggi, akan banyak kekecewaan yang kita temui.

Saya sendiri yakin, orang yang memiliki integritas itu banyak, cuma nyelip susah dicari. Apalagi dengan ukuran-ukuran yang kita (society) miliki sekarang, makin kesulitan anda mencarinya.

Cukuplah gunakan rumus sederhana, ”mutiara akan tetap jadi mutiara meski ia keluar dari mulut anjing” – Kebaikan akan tetap jadi kebaikan, meski bangsat yang melakukannya. Ini akan menjadikan kita lapang mencari ilmu, tidak sempit. Tentu, jangan berhenti di tingkat itu, terus-menerus kita akan sampai pada hikmahnya ilmu.

Kata-kata itu sendiri seperti baju koko, bisa digunakan siapa saja. Tinggal sedikit gunakan kedalaman, agar bisa membedakan yang mana baju koko dan yang mana baju shanghai.

Sebab tidak sedikit, orang yang hanya copy paste kalimat-kalimat motivasi atau kalimat-kalimat sufistik dari google, lalu menampak-nampakkan dirinya sebagai motivator unggul atau sufi. Apa kemudian kita tak boleh terkesima dengan itu? Boleh. Asal jangan mabuk.

Jika kita selalu punya kewaspadaan dengan jarak dan sudut pandang yang tepat, sangat bisa seorang penjual serabi mengajarkan kita ilmu tentang entrepreneurship, tak melulu dari orang parlente berdasi. Kita butuh motivator bukan motifator. +++

http://idm-events.loket.com/widget/2683