Berlomba dan Bertanding

Mengingat kembali cerita seorang kawan mengenai persaingan antar warteg (warung tegal) satu dan yang lain, menyadarkanku bahwa; sulit menjadi setan apalagi berperan sebagai partner setan, dukun. Saya justru merasa kasihan dengan mereka.

Bagaimana tidak, mereka saling menjatuhkan, mengirim keburukan dari satu ke yang lain untuk menunjukkan siapa yang lebih sakti. Siapa yang lebih ampuh mantranya. Ukurannya: warteg mana yang lebih ramai didatangi. Dukun yang satu melukai dukun yang lain, karena dianggap sebagai pesaing. Pesaing tidak boleh ada, bagi mereka. Kalaupun ada, pesaing harus lemah, sempit gerakannya. Jika diperlukan, disamarkannya oleh sang dukun, si asisten setan ini, agar makanan enak tampak jadi makanan busuk.

Tulisan ini bukan membahas tentang ilmu dukun. Jadi gak usah khawatir, sebab saya juga bukan dukun.

Ternyata setan juga berkompetisi. Lebih sulit dipahami lagi adalah kenapa hanya untuk pergi ke neraka saja mereka perlu berkompetisi, bersaing, berbenturan? Rasanya bukan karena adanya persaingan yang sengaja diciptakan, tapi memang seperti itulah sifat setan. Sifat setan yang terus-menerus kita coba hindari. Tuhan tak pernah lelah mengingatkan, jangan sampai sifat-sifat setan menjalar di darah dan sel-sel tubuh kita sebagai manusia. Manusia yang memang sudah mulia.

“Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” Lalu apa bedanya dengan setan yang berkompetisi dalam keburukan? Jelas beda. Karena dalam perlombaan tidak perlu ada yang menang dan yang kalah. Perlombaan essensinya bukan kompetisi dan pertandingan, karena dalam kebaikan tidak ada yang dipertandingkan.

Berlomba dalam kebaikan ibarat festival jazz. Setiap peserta festival menunjukkan kemahirannya bermain alat musik, satu persatu. Dalam festival tidak ada pemenang, tidak ada kalah, yang ada hanya kegembiraan. Pemain gitar menyampaikan skill intrepretasinya tentang musik yg ia pahami, tapi bukan untuk kesombongan. Sekali ia terjebak dalam sifat kesombongan dan persaingan, seketika itu setan menguasai jiwanya.

Sepakbola dan tinju adalah pertandingan, satu dan yang lain berhadapan, menjatuhkan dan saling mencuri peluang. Perlombaan tidak saling berhadapan. Perlombaan seperti lomba lari, semua menghadap kedepan, satu tujuan, berlari kearah yang sama.

Bahkan, berlomba dalam kebaikan jauh lebih menyenangkan dari lomba lari, sebab berlomba dalam kebaikan tidak ada ujung finish-nya, berlari saja, ikuti saja petunjuk arah finish-nya. Karena Tuhan tidak menilai kita dari sudah sampai atau tidaknya kita di garis finish, namun dari cara apa, melewati mana dan bagaimana kita melaluinya.

Festival seperti Kenduri. Persaudaraan dan Cinta adalah bahan bakarnya. Keikhlasan adalah kendaraannya. Ridho Tuhan adalah tujuan satu-satunya.

Kekayaan bisa diperoleh dengan bekerja keras diiringi pengelolaan-pengelolaan yang tepat. Namun apa jadinya hasil kerja keras tadi jika Tuhan tidak ridho? Berlombalah mencari ke-untung-an, jangan mendekati ke-celaka-an. Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s