ISLAMISASI

Membaca pernyataan seorang pejabat daerah yang melarang pendirian Gereja dengan alasan karena jalan itu bernama Islam, membuat saya ragu, jangan-jangan kita tak punya kepercayaan diri sebagai umat, apalagi sebagai bangsa. Bukan persoalan “pendirian gereja” tapi ada sesuatu yang rasanya janggal di nurani dan alam berpikir kepala saya. Kejanggalan itu sudah bermula dari banyaknya nama-nama islam di seputaran mata kepala saya. Dari lagu islami, baju islami, bank islam, kaos kaki islam, yang terbaru; jalan islam.

Silahkan bertanya apa itu Islam, akan banyak uraian dan penjelasan, tapi secara umum akan banyak sepakat bahwa Islam adalah Agama. Meski nanti jika ada waktu, saya akan mengurai lagi tentang ketidak sepahaman saya tentang Islam sebagai Agama. Namun anggaplah saya berangkat dari Islam sebagai Agama. Lalu apa sih Islami? Kata benda, kata sifat atau kata kerja? Dalam Kamus besar Bahasa Indonesia, “islami” didefinisikan sebagai kata sifat; “bersifat keislaman: akhlak”. Cukup tepat secara kaidah bahasa. Persoalannya, jika “islami” dipahami sebagai kata sifat, lalu sifat apa yang ditunjukkan untuk mengukur bahwa seseorang atau sesuatu itu bisa dilabeli status “islami”?

BAJU ISLAMI. Baju apa yang bersifat islam? Baik, kita jawab saja: baju yang tidak menunjukkan aurat. Nah, artinya saya bisa mencari baju islami tidak saja di counter “Toko Baju Muslim” tapi juga di counter “ZARA” atau “Calvin Klein” atau apapun, asal prinsip ‘tidak terbukanya aurat’ beres.

LAGU ISLAMI. Meski saya agak sulit mengurai perihal satu ini, paling tidak secara sederhana dipahami (banyak orang) adalah lagu yang bisa mengingatkan (orang yang mendengarnya) kepada Tuhan. Karena Islam tidak pernah membakukan lagu kebangsaan, maka kita bisa memiliki interpretasi tentang lagu apa yg bersifat islam/islami. Tidak selalu dengan lirik “allah” atau kalimat Quran mestinya, juga tidak selalu penyanyinya mesti pake baju gamis atau koko. Dengan lagu Lihat Kebunku pun, wajarnya sudah cukup bisa mengingatkan kita pada Tuhan. Ada mawar, melati, semuanya indah, kan? Memang siapa yang punya kemampuan menciptakan keindahan mawar dan melati, kalau bukan Tuhan?

Silahkan anda urai sendiri satu persatu, perihal lagu islami, kaos kaki islami, dll. Yang sedikit merepotkan cara berpikir saya adalah “jalan islami”. Ukuran apa yang bisa kita pakai untuk memberikan standar suatu jalan disebut “islami”? Apa jika jalan itu dipenuhi dengan tulisan/kalimat/gambar dari Al-Quran?

Menurut ukuran si walikota tadi, jalan dikatakan islami jika bermuatan nama Islam. Mungkin maksud beliau; nama orang yang beragama Islam. Namun secara teknis, hal ini akan sangat sulit dipraktekkan. Kita mesti menginventarisir satu persatu status agama setiap para pahlawan yang sudah terlanjur dijadikan nama jalan. Juga mesti meriset semua benda, kerajaan sampai idiom-idiom, apakah ia beragama Islam atau bukan. lalu bagaimana dengan Jalan Majapahit? Atau Jalan Perintis Kemerdekaan? Atau Jalan Genteng? Atau Jalan Anggrek? – Apa agamanya Majapahit? Para perintis kemerdekaan itu beragama apa? Apa agamanya genteng? Apa agamanya bunga anggrek? – Kalau itu semua tidak dianggap Islam? Lalu apakah anda berani menuduh bunga Anggrek tidak islami? Kenapa? Karena bunga Anggrek tidak memakai jilbab?

Tapi apa iya, yang disebut islami itu hanya sekedar tampakan (baju) yang kita pakai? Apa iya, sifat keislaman itu ditunjukkan dengan nama di KTP? Ya tentunya Islam tidaklah sekadar itu. Lebih memusingkan lagi, jika Islam dipahami sebagai kata benda. Suatu lembaga, institusi, tatanan formal dan non formal. Jika benar seperti itu, dimana saya bisa menemukan Sekretariat Pusat Agama Islam?

INPUT – PROSES – OUTPUT

Jika Islam diibaratkan PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) dimana air menjadi Input, mekanisme perubahan air menjadi gerak dan energi menjadi Proses, lalu tenaga listrik menjadi Output-nya, dimana letak posisi Islam ya?

Islam yang dipahami (khususnya sholat, puasa) masih ditempatkan oleh sebagian banyak kita sebagai Output. Bahwa orang Islam akan sah sifat islamnya, jika memakai baju koko atau peci. Bahwa suatu lagu akan sah menjadi sifat islamnya, jika ada kalimat “ya allah … ikhlas … ya karim.” Bahwa orang yang pulang berhaji pasti sah membawa sifat Islam yang amanah.

Mungkin kita sering lupa, bahwa hampir semua koruptor menyandang status Haji di KTP-nya. Status yang bahkan Nabi Muhammad sendiri tidak memakainya. Apa tidak mestinya Islam ditempatkan pada Input atau (paling tidak) Proses? Karena sepanjang saya tahu, sebaik-baiknya manusia adalah ia yang memberi manfaat. Maka “manfaat” inilah yang mestinya menjadi Output dari teknologi Islam yang tertanam di setiap ruh jiwa manusia sejak bayi.

Kita puasa untuk belajar tidak mencuri, jujur, ikhlas. Jika es blewah yang sudah jelas halalnya saja bisa kita tolak, apalagi yang haram. Jika kita bisa ikhlas tidak makan dan minum meski tidak ada yang memperhatikan, mestinya kita bisa ikhlas menolong sesama tanpa perlu difoto untuk baliho pencalonan Gubernur. — Sholat adalah Input dan Proses agar kita menjadi pribadi yang disiplin, taat administratif aturan. Jika sholat subuh dua rakaat dengan sebagian gerakan setengah menunduk, jangan dimodifikasi, terima saja. Manfaat sholat secara mudah akan bisa diterapkan untuk tidak melanggar lampu lintas, tidak ugal-ugalan di jalan, tidak parkir sembarangan. Manfaat-manfaat tadi adalah SIFAT, bukan tampilan. Bukan karena setiap hari anda memakai sarung lalu anda dijamin pasti bersifat jujur dan disiplin.

Nah, silahkan dijawab sendiri dengan metode berpikir tadi, kenapa peserta suatu majelis dengan memakai peci dan gamis, masih ugal-ugalan dijalan, melanggar lampu merah, arogan, justru saat ketika mereka baru saja pulang berdzikir?

Dalam konteks manfaat tadi, saya adalah pendukung terdepan ISLAMISASI. Yang belum saya pahami, produk handphone islami, sifat Islam apa yang hendak disampaikan oleh pemakainya ya? Oh, pasti orang yang memakai handphone tersebut, tidak akan menyakiti orang disekitarnya. Yuk, semua mesti memakainya jika begitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s