GO GREEN … PERGI MENGHIJAU

According to a study, when people feel they have been morally virtuous by saving the planet through their purchases of organic baby food, for example, it leads to the “licensing [of] selfish and morally questionable behaviour”, otherwise known as “moral balancing” or “compensatory ethics.” [guardian]

Salah satu supermarket besar di Jakarta menjual tas belanja ramah lingkungan sebagai pengganti tas plastik. Bahasa kerennya Green Bag. Bukan hanya supermarket ini saja, telah banyak gerai retail yang juga mengimplementasikan hal sama. Sebagian bahkan menyediakan tas plastik dari bahan alami, seperti dari kelapa sawit yang konon limbahnya mudah terurai. Logo recycle dengan warna hijau lalu menjadi bagian dari icon budaya populer.

Lalu apakah ‘gerakan hijau’ ini baik? Tentu saja baik. Namun saya bukan environmentalist, dan anda tidak usah mengharap saya menjelaskan apa itu Global Warming di tulisan ini.

Masih terekam di memori kepala saya, dulu ketika kecil, saya selalu melihat si mbok jika hendak pergi ke pasar selalu membawa tas besar. Begitu teringatnya, bahkan jika ada orang rumah keluar dengan membawa tas kosong besar, langsung saya menyeletuk. “Mau ke pasar?”

Dari ilustrasi tadi saja, sudah sangat jelas bahwa secanggih apapun teknologi bio-degradable suatu tas, masih lebih bermanfaat bagi alam tas besar plastik non-degradable yang dibawa si mbok dulu. Kok bisa? Kan tas si mbok tidak bisa terurai dengan cepat? Tas si mbok butuh waktu berpuluh-puluh tahun untuk terurai, dan itulah penyebab global warming, banjir, dan lain-lain.

Jawabannya: karena si mbok gak pernah gonta ganti tas. Dia selalu membawa tas yang sama setiap hari. Daripada dengan membeli tas plastik yang bio-degradable tapi setiap hari membuangnya? Sederhananya, isu utama bukan pada material tasnya, tapi pada perilaku manusianya.

BUYING A GREEN PRODUCT DO NOT NECESSARILY MAKE US BETTER PEOPLE.

Logo ‘recycle’ atau ‘go green’ hanyalah simbol. Simbol memberikan eksposure mengenai siapa diri kita. Menurut studi, logo ‘apple’ mengekspos kreatifitas, juga dengan logo atau slogan ‘green’ juga mencerminkan sesuatu, yaitu manifestasi produk yang ‘bersahabat’ dengan alam sebagai perilaku etis. Namun itu tidak harus berhubungan langsung dengan perilakunya. Yang ditumbuhkan hanyalah motivasinya.

Dalam konteks ini, Go Green sebagai pesan sosial kepada publik bisa baik, namun kurang tepat jika perilaku Go Green lalu menjadi branding dan alat marketing, apalagi jika berlebihan, hingga mengurangi sifat altruistik etika dari movement itu sendiri. Atau justru terjebak pada perilaku compensatory ethics. Ibarat: karena saya tidak dapat melakukan banyak hal terhadap lingkungan (seperti pengurangan karbon, pemilahan sampah) maka cukuplah saya mengeluarkan uang dengan membeli produk dengan lisensi ‘green’ atau dengan menggunakan tas, kaos, atau gelang dengan logo Go Green.

Semoga tidak. Karena saya sudah banyak melihat hal semacam ini. Seperti pos-pos polisi dengan tulisan GO GREEN, yang sampai saat ini saya belum menemukan korelasinya, atau komplek perumahan dekat rumah saya yang bermodalkan digital poster mengelilingi temboknya, berwarna hijau dengan tulisan GO GREEN, padahal pembangunan perumahan itu sudah mengorbankan banyak serapan air.

NO, PEOPLE. GREEN IS NOT ABOUT THE COLOR.