Teknologi Membaca

Dulu -ketika masih kuliah- saya sanggup membaca puluhan buku, dari novel hingga filsafat. Kini untuk membaca satu bukupun saya sudah tidak sanggup? Ada kelelahan, namun lebih dari itu, saya merasakan ada perubahan di kepala saya. Informasi yang sifatnya uraian panjang sudah tak mampu lagi tercerna. Kebiasaan menerima asupan-asupan informasi yang direct, padat, pada media sosial/internet (twitter, facebook, web news) rasanya ikut punya peran membentuk. Lalu apa pengaruh dan beda antara membaca di internet/layar monitor dan membaca buku? Kalaupun ada pengaruhnya, apa sampai mendasar perubahannya? Saya akan telusur perlahan.

DECODER OF INFORMATION

Media itu seperti lorong-lorong, ia sendiri pada dasarnya bukan informasi yang bersifat pasif. Media tidak hanya menyuplai produk pemikiran, melainkan juga membentuk proses pemikiran itu sendiri. Internet sebagai media pun mempunyai kecenderungan sama dalam mereduksi daya kapasitas otak untuk konsentrasi serta kontemplasi. Hal ini dikarenakan saraf-saraf otak telah terbiasa mendapatkan informasi yang cepat dan secara terburu-buru dianggap akurat.

Maryanne Wolf, seorang psikolog asal Tufts University, dalam bukunya Proust and The Squid: The Story and Science of the Reading Brain, mengatakan “We are how we read”. Wolf dalam bukunya, mengkhawatirkan pola membaca yang ditawarkan di dunia maya / internet, ketika kecepatan mengakses data informasi menjadi primer, hal ini dianggap memberi dampak buruk pada saraf yang akhirnya mengurangi kapasitas daya otak untuk membaca atau mengintrepretasi atas suatu teks. Internet membuat manusia akhirnya lebih hanya menjadi semacam alat dekoder.

Berbeda dengan keterampilan berbicara, kemampuan membaca sebenarnya bukan indera yang tertanam pada manusia sejak lahir. Manusia harus belajar dalam waktu tertentu untuk mengintrepretasikan suatu karakter-karakter simbol ke dalam pikirannya. Ingat, tulisan/teks adalah simbol materi dari pikiran. Teknologi pada media yang kita pakai sebagai sarana membaca, sangat mempengaruhi bentukan sirkuit saraf-saraf yang ada pada otak kita. Kata lainnya, sirkuit-sirkuit ‘membaca’ pada saraf di otak tidak terbentuk sama secara genetis, tapi terbentuk berbeda sesuai dengan proses masing-masing manusia pada setiap generasinya.

Misal pada simbol idiogram (tulisan huruf Cina, Jepang, India); menumbuhkan sirkuit saraf ‘membaca’ yang berbeda dari kelompok orang yang membaca simbol alfabet. Bentukan saraf pada otak mereka pada akhirnya menjadi input karakter yang nantinya menjadi salah satu faktor pembentukan budaya masyarakatnya. Perhatikan saja, bagaimana kesulitannya peradaban “alfabet” menjajah peradaban “idiogram”. Tulisan jawa termasuk idiogram, yang dikemudian hari kita mengadopsi sistem “alfabet” dalam bahasa Indonesia. Hal tadi akan menjadi satu contoh perbedaan yang bisa terjadi dari kebiasaan membaca langsung dari layar internet dan membaca langsung dari media cetak. Bukan membacanya namun teknologinya.

Otak manusia terbuat dari materi yang sangat lentur, ia tidak padat seperti pemahaman kebanyakan orang, bahkan sampai manusia menginjak usia dewasa ia tetap lentur. Banyak neuro sciencist telah meriset ini, bahwa otak manusia teruji sangat lentur dan sangat plastik. Umur manusia tidak menjadikan struktur otak manusia menjadi lebih mapan dan tahan atas perubahan. Sel-sel saraf didalam otak secara rutin rusak dan terbentuk baru setiap waktu. Otak mempunyai kemampuan memprogram dirinya sendiri sesuai dengan input dan fungsi yang diperlukan.

SCIENTIFIC MIND INTO THE SCIENTIFIC MAN

Perubahan pola teknologi komunikasi pada akhirnya mengubah pola ‘teknologi’ intelektual manusia. Teknologi intelektual merupakan suatu alat yang dapat merubah struktur pikir bahkan mental, bukan pada fisik kita. Sebagai contoh, perubahan yang terjadi pada awal abad ke-14 ketika era industrialisasi berkembang pesat di Eropa. Perkembangan sains dan industri mekanik mendorong manusia pada zaman itu mempunyai pola berpikir secara mekanis juga. Konsepsi waktu mekanis yang menyebar ke seluruh dunia era itu, telah merubah banyak pola kehidupan pada masyarakatnya. Untuk memutuskan kapan hendak makan, bekerja, tidur dan bangun, manusia tidak lagi mendengarkan perasaan (feel) dan pikiran (sense) mereka lagi, namun lebih mentaati waktu atau jam. Waktu yang mulanya dibagi berdasarkan kerangka yang abstrak, berubah menjadi suatu acuan referensi yang utama untuk tindakan, aktifitas bahkan pikiran manusia.

Proses adaptasi otak terhadap teknologi ntelektual yang baru tersebut, merefleksikan secara metaforis, bahwa telah terjadi perubahan pola hidup manusia secara mendasar (baca: mekanis) pada era itu sesuai dengan perkembangan teknologi yang terjadi.

Beberapa abad lalu, otak manusia diibaratkan sebagai mesin mekanik. Pada era internet saat ini, otak manusia diibaratkan sebagai super komputer. Kemampuan sel-sel saraf pada otak yang bersifat adaptif (lentur dan plastik) juga turut mendorong perubahan-perubahan yang terjadi pada masa-masa setelahnya. Internet pada era saat ini telah sublime menjadi teknologi intelektual terbaru manusia. Internet bukan hanya sekedar sumber berita, namun telah menjadi waktu, peta, komunikasi, bahkan televisi kita.

RUANG DIAM SEBAGAI MEDIA KONTEMPLASI

Kedatangan teknologi mesin cetak Guttenberg pada abad ke-15, awalnya juga menumbuhkan rasa skeptis pada masyarakat Eropa. Lembaran-lembaran tulisan yang diproduksi secara massif, dianggap merusak tatanan budaya bahkan eksistensi pemahaman institusi agama. Toh kekhawatiran tersebut tak mampu menghalangi pertumbuhan teknologi, bahkan semakin masif seiiring dengan berkembangnya era industrialisasi.

Kekhawatiran yang tumbuh pada masyarakat kita (di Indonesia) terhadap perkembangan internet, seyogyanya ditempatkan sebagai pemicu kesadaran kemanusiaan kita. Meski hampir menggantikan posisi media cetak, internet tetaplah bukan ‘alfabet’ dan bentukan dari kedua media itupun tetaplah akan berbeda. Metode membaca perlahan dan dalam (deep reading) pada media cetak, tetap memberi nilai lebih, bukan saja serapan pengetahuan yang kita akan dapatkan dari penulisnya, kita juga ikut merasakan getaran energi intelektual dari huruf-huruf yang terbaca yang kemudian dikirimkan ke otak kita.

Membaca dalam kondisi diam, tenang, tidak terganggu, dapat menjadi salah satu metode kontemplasi yang sangat berguna bukan saja bagi intelektualitas namun juga spiritualitas. Ruang diam yang membentuk asosiasi, menggambar imajinasi, menumbuhkan ide dan analogi pada diri kita sendiri, adalah konsep yang tidak dapat tergantikan media internet. Jika kita telah kehilangan ‘ruang diam’ tersebut dan mengisinya dengan yang lain, kita akan kehilangan sesuatu yang sangat penting, tidak saja bagi diri kita sendiri, juga secara luas bagi kebudayaan peradaban kita.  +++