Aturan & Kebijaksanaan – Rule & Wisdom

Suatu kali saya dihentikan oleh seorang polisi lalu lintas karena melanggar aturan 3in1. Seperti semua tahu, aturan 3 in 1 adalah keharusan berpenumpang 3 orang atau lebih pada sebuah mobil yang mengendara pada suatu daerah tertentu. Aturan ini diterapkan untuk mengurangi kemacetan lalu lintas pada jam-jam tertentu, yaitu pukul 7.30 sampai 9.30 di pagi hari dan pukul 16.30 sampai 19.00 di malam hari. Perdebatan lalu terjadi antara saya dan bapak polisi karena saya ditilang pada pukul 16.25, sesuai jam yang tertera pada jam di dashboard mobil saya, sedang bapak polisi meyakinkan bahwa jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 16.30. Bukan itu saja yang bikin saya terpaksa mendebat beliau, saya juga diberhentikan pada garis terakhir perbatasan antara area 3in1. Jadi, jika sedetik saja bapak polisi tersebut tidak menghentikan mobil kami, maka keluarlah kami dari area 3in1.

Pada lain waktu, seorang kawan juga mengalami kasus pidana ringan tilang oleh polisi karena tidak menggunakan helm ketika mengendarai motor. Kawan itu protes karena menganggap ia mengendarai motor pada komplek perumahan, sedang polisi tetap menilang karena aturan tetaplah aturan tidak ada toleransi.

Banyak kejadian semacam ilustrasi diatas, satu contoh lagi adalah kasus seorang ibu tua yang mencuri dua buah kokoa dan dijatuhi hukuman pidana di pengadilan. Dalam ranah hukum, hukuman yang diberikan adalah suatu bentuk penegakkan hukum. Supremasi hukum disebutnya.

MORAL SEBAGAI MODAL

Jika hukum dibuat sebagai bentuk penerjemahan dari moralitas yang tertata dari budaya dan karakter suatu masyarakat maka seharusnya tidak ada benturan antara moral dan hukum sebagai aturan. Namun dalam banyak kasus (seperti dalam kasus contoh-contoh diatas) hukum terasa jauh dari realitas moral dalam masyarakat.

Menarik suatu illustrasi yang dipresentasikan oleh Barry Schwartz pada acara TED. Tulisan ini akan membuat suatu review atau sari dari presentasi yang di beri tema Our Loss of Wisdom tersebut.

Ada satu contoh kejadian sederhana dari keseharian, yaitu seorang office boy (OB) pada sebuah rumah sakit. Katakanlah namanya Pak Solihin. Tugas  Pak Solihin, satu diantaranya adalah membersihkan ruang tunggu rumah sakit pada setiap pagi, siang, sore dan malam. Itu adalah aturan (rule) tugas office boy yang sudah ditetapkan oleh pihak rumah sakit, titik. Kita banyak mengenalnya sebagai job description. Suatu waktu, Pak Solihin memutuskan untuk tidak membersihkan ruang tunggu karena disana sedang duduk tertidur satu keluarga pasien, yang pada malam sebelumnya tidak tidur karena sedang menunggu keluarganya di operasi. Ada waktu juga dimana Pak Solihin tidak membersihkan salah satu kamar pasien sesuai jadwal, karena si pasien sedang belajar berjalan menggunakan tongkatnya, pasien itu terkena stroke sebelumnya.

Mengapa Pak Solihin melanggar aturan? Mengapa ia tidak melakukan pekerjaan yang sudah diberikan kepadanya? Pak Solihin jelas-jelas melanggar aturan, tidak mentaati job description yang sudah ditetapkan kepadanya.

Ini yang kemudian menjadi highlight. Aturan (rule) pada banyak konteks, justru menurunkan kualitas moral, menjadikan manusia lupa akan kemanusiaannya. Pada ilustrasi yang dilakukan Pak Solihin diatas, jelas ia melanggar aturan. Pak Solihin menjelaskan bahwa ia tidak ingin mengganggu keluarga yang sedang tertidur lelap karena kelelahan. Justru dengan mengindahkan aturan, ia merasa bahwa ia telah melakukan yang terbaik. Mengganggu satu keluarga yang tengah tertidur karena kelelahan menunggu anggota keluarganya yang sedang sakit keras atas nama tugas dan kebersihan, justru membuat ia tidak nyaman, hingga akhirnya ia memilih untuk tidak melaksanakan tugasnya.

Tidak semua Office Boy seperti Pak Solihin, namun karyawan dengan perilaku dan karakter diatas adalah orang yang meyakini bahwa interaksi antar manusia, empati, kepedulian adalah bagian yang sangat mendasar berpengaruh dalam pekerjaannya, hal yang tidak dicantumkan pada job desc mereka.

Ketepatan dalam menempatkan diri pada setiap ruang antara aturan dan kebijaksanaan moral inilah yang saat ini makin lama makin langka. Orang tidak mampu menjadi bijaksana bagi dirinya. Profesional, adalah kata yang makin sering menjadi tumpuan dan acuan, justru tidak jelas lagi batasannya hingga kadang justru merusak essensi kemanusiaan.

Sadar atau lalai, yang dimiliki oleh Pak Solihin dalam dirinya adalah moral will yaitu kemampuan dalam mengintegrasikan unsur moralitas dalam pekerjaan yang dilakukannya sehari-hari, dan justru lebih dari itu, Pak Solihin telah memiliki moral skill yaitu kemampuan mengaplikasikan moral will dalam kehidupan sehari-hari. Dua hal ini yang tidak mudah dijalankan. Moral will tanpa moral skill tidak akan bermanfaat apapun, selain wacana dan wacana.

Ketrampilan menerapkan atau mengaplikasikan moralitas dalam kehidupan nyata tidak  banyak diberikan oleh lembaga pendidikan. Ini adalah ketrampilan hidup yang sederhana namun tidak mudah dipelajari.

“Practical wisdom is the combination of moral will and moral skill” -Aristotle

Benny Schwartz adalah seorang social scientist, ia mengkhawatirkan penurunan kualitas manusia atas hilangnya kebijaksanaan (wisdom) dalam kehidupan sehari-hari manusia modern, dalam presentasinya ia menyebut orang seperti Pak Solihin sebagai wise person. Dia mengkriteriakan wise person seperti di bawah ini:

A Wise Person Knows : When and how to make “the exception to every rule.

A Wise Person Knows: When and how to improvise.

Persoalan yang ada dalam kehidupan sehari-hari sering kali bersifat ambigu dan sulit didefinisikan dan konteksnya selalu cepat berubah-rubah. Seperti halnya musik jazz, orang yang bijaksana mampu menari diatas nada-nada not lagu yang tertulis pada buku panduan partitur lagu, ia mampu berimprovisasi, menciptakan kombinasi hal-hal yang layak untuk dimainkan.

A Wise Person Knows: How to use these moral skill in pursuit of the right aims.

Memberikan pelayanan kepada orang lain bukan memanipulasi untuk kepentingan pribadinya

A Wise Person: Is made not born.

Wisdom atau kebijaksanaan dibangun atas pengalaman dan bukan sekadar pengalaman, butuh waktu panjang untuk mampu berimprovisasi, mencoba dan kemudian gagal, mencoba kembali dan gagal kembali, dan kegagalan itu akhirnya menjadikan ia menjadi bijaksana atas hal-hal baru. Dan anda perlu dituntun oleh orang-orang yang juga bijaksana, bisa atasan anda, kawan atau pasangan anda.

Kalau anda menanyakan pada Pak Solihin seberapa lama ia belajar dari pengalamannya, maka ia akan menjawab bahwa ia telah lama belajar dari pengalaman. Bukan lama belajar menyapu dan mengepel namun belajar melayani orang dengan baik, dengan hati. Satu hal lagi, anda tidak perlu menjadi orang pintar untuk bijaksana, tapi sayangnya tanpa kebijaksanaan kepintaran tidak akan pernah cukup.

INSENTIF DAN ATURAN

Insentif dan aturan akan sangat baik dalam jangka pendek, namun dalam jangka waktu yang panjang, insentif akan membuat moral skill terkikis perlahan-lahan. Hal inilah yang dapat menjawab mengapa renumerasi (pemberian insentif dengan jumlah yang berlipat-lipat dari gaji pokok) pada sebagian instansi pemerintah tidak menghilangkan budaya korup. Kebijakan renumerasi diberikan dengan alasan agar pegawai tercukupi secara materi sehingga tidak berperilaku korup adalah hal yang tidak tepat. Perilaku moral yang baik tidak berbanding lurus dengan pemberian insentif yang berlebih.

Sebuah studi pada sebuah penduduk kota di Norwegia, mereka memberikan quisioner dengan pertanyaan: “Jika negara kita membuat instalasi pembangkit listrik tenaga nuklir, apakah anda mau menyimpan sampah nuklir di halaman belakang rumah anda?” – Lima puluh persen dari responden menjawab “Bersedia” karena asumsinya merekalah yang menikmati listrik maka merekalah sendiri yang harus menyimpan sampahnya.

Lalu dibuatlah pertanyaan berikutnya; “Jika negara membuat instalasi listrik tenaga nuklir, apakah anda mau menyimpan sampah nuklir di halaman belakang rumah anda dan anda akan diberi insentif setiap tahun sejumlah tiga bulan gaji anda sebagai kompensasi?” – Ternyata, tidak 50% lagi yang menjawab “Bersedia” melainkan merosot menjadi 20%.

Hasil riset diatas menyimpulkan bahwa insentif tidak berbanding lurus dengan moralitas, justru pada tingkat tertentu menurunkan moralitas. Masyarakat kota di Norwegia itu, justru tidak ingin melakukan kebaikan moral karena diberi insentif.

Konteks Norwegia dan Indonesia pasti berbeda, namun ada nilai yang dapat kita petik disini. Bekerjalah dengan hati, cintai pekerjaanmu, jadikan moralitas menjadi struktur pondasi dalam melakukan pekerjaan sehari-hari lalu aplikasikan. Berimprovisasilah. Hanya dengan cinta, bukan karena uang, moralitas dijalankan.  +++