Pendidikan dan Peristiwa

Diskusi malam pada acara di Departemen Pendidikan Nasional yang dihadiri oleh Emha Ainun Nadjib, Sabrang (Noe Letto) dan sang tuan rumah, Bapak Menteri Pendidikan Nasional, Muhammad Nuh, begitu membekas di pikiran saya. Tema malam itu adalah Pendidikan dan Kebudayaan, dialasi dengan pembahasan awal mengenai kata ‘ilmu pengetahuan’ yang sering dijadikan alasan utama ‘peserta didik’ untuk mengikuti jalur pendidikan formal. Sadar atau lupa, setiap orang tua memberikan jawaban “Agar memperoleh pendidikan yang layak, sehingga mampu bersaing di era global” ketika ditanya “Mengapa anak anda harus bersekolah?” Istilah ‘peserta didik’ sengaja saya beri tanda kutip karena istilah yang dipakai sebelumnya adalah ‘siswa’ dan kemudian dirubah istilahnya menjadi ‘peserta didik’ dalam konstitusi edisi terkini. Tentu ada maksud yang (anggap saja) baik dalam perubahan itu.

Peristiwa Pendidikan

Kata kunci kedua adalah ‘peristiwa’. Menurut Noe, dalam pendidikan kini, anak tidak diberi ‘peristiwa’ oleh dunia pendidikan yang di tempuh hampir separuh waktu hidupnya, ini disayangkan karena justru disinilah kunci dari pendidikan. Ketika pengajaran ilmu yang diberikan tidak menjadi suatu ‘peristiwa’, hampir bisa dikatakan bahwa pendidikan telah gagal. Seorang dewasa (kita bisa termasuk didalamnya) ketika ditanya, “Apa yang anda ingat ketika di sekolah dulu?” Jawaban sebagian besar adalah, “Ketika membolos” atau “Waktu dimarahin oleh guru” atau juga “Waktu jam olahraga” Mengapa bukan memori pelajaran matematika di kelas? Bukankah itu yang seharusnya kita ingat?

Pendidikan yang kemudian tidak menjadi ‘peristiwa’ bagi anak, menjadikan memori di dalam otaknya tidak menyimpan apa yang diberikan oleh pendidik. Pengetahuan adalah peristiwa, ini berbeda dengan ilmu. Pelajaran di sekolah memang sudah selayaknya memberi pendidikan mengenai moral dan etika, namun hal-hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan bahwa pelajaran yang diberikan tidak bisa menyenangkan bagi siswa. Saya sendiri sempat beberapa kali mengajar di sekolah-sekolah internasional, mendatangi sekolahnya dan ikut mengajar siswa disana. Sangat berbeda suasana pengajaran yang terbentuk dibandingkan dengan sekolah ‘formal’ negeri. Selain suasana yang tampak sangat menyenangkan, suasana keakraban juga telah menjadi budaya. Seorang anak belajar dengan santai, kadang mereka dengan sangat ringan mengutarakan ketidaksukaannya jika dianggap pendidiknya membosankan. Di sisi pendidik sendiri, mereka berusaha dengan metode tertentu menjadikan pelajaran yang diberikan saat itu menjadi ‘peristiwa’ bagi si anak.

Bagaimana sebuah ‘peristiwa’ dapat diciptakan? Tentu ini kreatifitas si pendidik. Seorang pendidik pelajaran matematika (mata pelajaran yang paling banyak dibenci) dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dengan gambar atau tulisan yang indah. Ini pernah saya alami ketika kelas 1 SMP, pengajar matematika saya selalu menulis indah di papan dengan ornamen kapur berwarna-warni ketika mengawali kelasnya. Yang ditulis adalah rumus-rumus yang hari itu akan diajarkan. Dan sampai saya dewasa, sosok beliau masih terekam. Mengapa? Karena ia mampu menciptakan ‘peristiwa’ ke dalam sebuah kelas.

Bagi anak pada usia dini (antara umur 4-12 tahun) kunci dalam memberikan pendidikan adalah ‘menyenangkan’. Menurut penelitian ilmiah mengenai perkembangan kognisi, pada usia dini anak belum mempunyai kemampuan secara penuh untuk membedakan mana realita dan mana fantasi. Sedikit demi sedikit pembeda diantara dua dunia itu akan diperoleh oleh si anak dari lingkungannya. Jika pendidik tidak bisa memasukkan unsur ‘menyenangkan’ jangan harap mereka akan mudah menerimanya.

Ilmu dan Pengetahuan

Benar, kata ‘ilmu’ selalu disandingkan dengan kata ‘pengetahuan’ menjadikan sebagian kita menganggap keduanya adalah dua hal yang sama. Seperti ‘alim ulama’ yang juga sudah menjadi satu paket dalam perbendaharaan kata kita. Secara etimologi, alim adalah seseorang yang mempunyai keilmuan dalam bidang tertentu. Sederhananya, ilmu adalah objek sedang alim adalah subjeknya, pelakunya. Namun kata ‘alim’ telah banyak dipahami sebagai seseorang yang diam, tidak neko-neko, suka beribadah, dan sebagainya. Saya pernah menulis khusus mengenai ini di tulisan sebelumnya.

Pola sistem pendidikan pada sekolah-sekolah internasional, tentu tidak lantas dinilai lebih baik. Namun banyak hal yang kita bisa serap dari sana, jika memang itu lebih baik. Budaya primordial yang ditonjolkan oleh para pendidik lokal adalah hal pertama yang mesti dikurangi.

Ada pertanyaan yang disampaikan, “Kenapa anak saya harus mendapat pendidikan (yang kata anda) lebih baik? Saya dan banyak kolega saya, sekolah di desa, tidak ada fasilitas, guru dan sistem yang memadai. Tapi generasi saya banyak yang berhasil, menjadi dokter dan pejabat penting” Penulis menjawab, “Jika anda sekolah di desa dengan fasilitas dan sistem seadanya saja sudah menjadi dokter, bayangkan anak anda jika mendapatkan pendidikan yang lebih baik dari anda dulu.”

Pendidikan bukan isu sederhana, banyak sisi yang selalu tampak tidak sempurna. Tapi menyadari ketidaksempurnaan dari sistem dan terus membangunnya adalah satu hal yang bisa anda lakukan. Mulailah dari pendidikan di rumah anda sendiri. ++