PARADOKS SI PEMBOHONG – PERSOALAN LOGIKA

Bisakah kita memastikan kebenaran dalam suatu pernyataan (selanjutnya saya pakai kata ‘statement‘) yang tunggal? Pertanyaan semacam ini telah diajukan dari zaman Socrates, yang berkata, “The one thing that I know is I know nothing – Satu hal yang pasti saya tahu adalah bahwa saya tidak tahu apa-apa” – paradoks, karena Socrates tidak tahu apa-apa maka ia tidak bisa tahu bahwa statement-nya benar.

Manusia cenderung membuat asumsi-asumsi logika mengenai prasangka mereka. Jika ada dua statement yang membentuk susunan kalimat yang bertautan namun bertentangan antara satu dan lainnya, maka yang pertama kita asumsikan adalah bahwa sebagian statement itu adalah benar (dalam filsafat disebut dengan the law of identity). Kedua, kita berasumsi bahwa tidak ada dua statement yang sama-sama benar dan salah (the law of contradiction). Ketiga, kita berasumsi bahwa semua statement salah satunya harus benar atau salah (the law of excluded middle). Jika seorang teman mengatakan bahwa “sekarang sedang turun hujan”, ia dapat dikatakan berbohong atau jujur. Dua pilihan kemungkinan. Oh ya? Atau mungkin saja, sekarang tidak hujan, namun terjadi hujan dibagian dunia yang lain, kan?

Tapi apa yang terjadi jika seseorang datang kepada anda dan mengatakan bahwa “saya seorang pembohong”? Jika statement-nya benar, maka dia bukan seorang pembohong, jadi statement-nya salah. Tetapi statement tidak bisa salah, karena jika kasusnya seperti itu, maka dia mengatakan yang benar dan dia tidak akan jadi pembohong.

Statement di atas tadi menjadi sebuah contoh model sebuah kontradiksi yang tidak (atau; belum) dapat dipecahkan (unresolvable contradiction), karena tidak bisa dikatakan bahwa keduanya benar atau salah. “Lukisan ini indah” juga satu dari banyak statement yang bisa menjadi benar pada satu orang namun tidak pada orang yang lainnya. Secara neurologis, kebenaran dan fiksi adalah nilai subyektif yang di bentuk oleh otak. Sejauh perjalanan sejarah manusia, aslinya tidak diperlukan suatu pengetahuan yang benar-benar mengetahui sesuatu itu benar secara absolut; imajinasi dengan menggunakan alat logika, seperti apa yang didemonstrasikan sebelumnya.

Demonstrasi logika diatas tadi disebut Liar’s Paradox atau Paradoks Si Pembohong. Godel, seorang ahli matematika menggunakan versi itu tadi untuk mengilustrasikan teorinya mengenai ketidaksempurnaan sistem logika simbolik matematika.

Imajinasikan bahwa anda sedang melangkah berjalan menyusuri jalan dan anda sampai pada suatu persimpangan jalan. Disana anda menemui dua orang dan ada tanda yang bertuliskan:

Satu dari dua jalan ini akan menuju pada keselamatan dan yang satunya menuju pada kematian. Dua orang di depan anda, keduanya tahu mana jalan yang menuju keselamatan. Namun, satu diantara mereka selalu berbohong dan yang satunya selalu berkata jujur. Anda hanya dapat menanyakan satu pertanyaan untuk kemudian memilih; mana jalan yang benar.

Jika saja anda dapat memberikan dua pertanyaan, persoalannya mungkin akan lebih sederhana dan mudah. Anda dapat bertanya kepada satu dari dua orang itu, “Berapa jumlah mata yang anda punya?” Dan dengan segera, anda akan dapat memastikan yang mana Si Jujur dan yang mana Si Pembohong. Selanjutnya tinggal mengajukan pertanyaan kedua, “Kemana jalan menuju yang benar?” yang ditujukan ke satu dari dua orang itu tadi. Sayangnya, anda hanya mendapatkan jatah satu pertanyaan.

Begini solusinya, tanyakan kepada siapa saja yang anda pilih, apa yang akan dijawab oleh temannya jika anda bertanya ke dia kemana jalan yang benar, lalu pilihlah jalan yang berbeda/berlawanan dengan yang dijawab. Asumsinya, untuk sementara, jalan A adalah jalan benar dan jalan B adalah jalan yang salah. Si Pembohong akan mengatakan bahwa Si Jujur akan berkata untuk mengambil jalan B. Sedang Si Jujur akan mengatakan bahwa Si Pembohong akan berkata untuk mengambil jalan B. Dan tentu saja, anda harus mengambil yang berlawanan, yaitu jalan A.

Seperti itulah metode Godel dalam menjelaskan teori logikanya untuk membuktikan eksistensi Tuhan, tetapi pada akhirnya ia terhenti dengan teorinya sendiri yang berimplikasi pada setiap equasi yang berisi asumsi-asumsi yang punya kemungkinan untuk salah. Pada contoh diatas, anda bisa saja berasumsi bahwa Tanda yang di jalan itu benar adanya. Bagaimana jika Tanda itu ditulis oleh seorang pembohong?

(dikutip dan dibahasakan dari buku WHY WE BELIEVE WHAT WE BELIEVE, Uncovering Our Biological Need for Meaning, Spirituality, and Truth – Andrew Newberg, MD dan Mark Robert Waldman)