Weltervreden

Menceritakan kota Jakarta sungguh pekerjaan yang sangat mudah, karena pada setiap sudut jalan kota tedapat banyak sejarah. Dari pasar Senen yang setiap dasawarsa selalu berubah wajah, sampai kota tua di bilangan utara Jakarta yang menyimpan sejarah panjang pintu masuk jaman keemasan kerajaan Belanda.

Tak perlu bercerita mengapa terjadi kegagalan pada tentara Mataram yang berkali-kali menyerang kota Batavia setelah menempuh perjalanan selama tiga bulan dua minggu dengan 50 gorab (kapal laut jawa) yang pada setiap kapalnya memuat 900 awak, 130 ekor ternak, 3600 liter beras, 10.700 ikat padi, 26.000 butir kelapa, 5900 batang gula, bahkan pada banyak literatur juga diceritakan ekspedisi pasukan darat tentara Mataram yang bergerak dari Kendal menuju Batavia dengan kekuatan 90.000 prajurit tanpa alas kaki. Yang pada saat itulah, orang Barat (Belanda) pertama kali mendengar kata ‘amuk’ dari tentara Mataram yang nekat dan berani mati.

Namun jika anda berkunjung ke daerah sekitar Glodok atau tepatnya Jalan Pinangsia Timur (saat itu bernama Kaaimanstraat) maka disitulah benteng Belanda, kunci titik pertahanan yang hingga akhir tidak dapat ditembus oleh Mataram, didirikan. Juga daerah hutan sebelah selatan Batavia, tempat tentara Mataram bersembunyi, yang di kemudian hari disebut dengan Mataraman atau Matraman.

Ibukota Batavia awalnya hanyalah kota yang dikelilingi tembok (benteng), saat ini menjadi Pasar Ikan di daerah Kota. Setelah pembangunan terusan Suez pada tahun 1869, terjadi migrasi besar-besaran bangsa Eropa ke Timur. Perjalanan dari Belanda ke Batavia yang awalnya ditempuh selama 6 bulan dengan kapal uap cepat, menjadi hanya satu bulan setelah terusan Suez di bangun. Gubernur Jenderal Hindia Belanda ketika itu, Willem Herman Daendels, sepupu Napoleon yang dijadikan Gubernur Jenderal Hindia Belanda setelah Perancis menguasai Belanda, mengerti betul kebutuhan para kaum Belanda yang terus menerus meningkat jumlah kedatangannya. Dibangunlah komplek Weltervreden, ibukota Batavia baru yang lebih nyaman.

Daendels membangun White House, yaitu tempat pusat administrasi Belanda di Batavia, yang saat ini menjadi Gedung Departemen Keuangan. Di sebelah selatannya dibangunlah komplek tentara lengkap dengan fasilitas rumah sakit, barak dan gudang amunisi, yang saat ini ditempati Angkatan Darat menjadi RSPAD Gatot Subroto. Gedung Departemen Agama di sekitar Lapangan Banteng pun dulunya adalah barak militer tentara Belanda, sehingga pada awal kemerdekaan dipakai juga sebagai markas Tentara Indonesia dan diberi nama Jalan Perwira.

Belanda membangun kanal-kanal untuk menghubungkan gedung satu dengan yang lainnya sebagai akses utama moda transportasi air dari laut menuju ke tengah kota ketika itu. Maka Jalan Hayam Wuruk (saat ini) ketika itu menjadi ‘Jalan Thamrin’nya Batavia, dimana pada pinggir-pinggir sungainya terdapat rumah-rumah mewah kaum Belanda beserta sarana-sarana hiburannya, dan Harmoni merupakan persimpangan utama Batavia. Gedung Kesenian Jakarta di daerah pasar baru kini juga adalah pusat hiburan, dulu bernama Shouwburg, ketika itu sering dipentaskan opera Verdi dan Othelo karya William Shakespeare.

Masih banyak sejarah kota Jakarta yang bisa kita gali, bahkan bisa dimulai dari nama daerah dimana kita tinggal saat ini. Seperti Rawamangun, Rawabelong, Rawabadak, adalah karena memang daerah itu tadinya adalah rawa-rawa. Dan seperti Pulau, daerah yang dikelilingi oleh air atau danau, muasal nama Pulomas, Pulogadung, Kampung Pulo, dll. Tentunya juga hutan jati banyak terdapat di Batavia ketika itu, yang menjadikan alasan nama seperti Jatinegara, Kramat Jati, Jati Baru, dan sebagainya.

Saya masih mencari, mengapa tempat tinggal saya dinamakan Sukapura. Mungkin saja banyak orang yang suka berpura-pura dulunya disini. Semoga tidak.

Selamat Ulang Tahun Jakarta.

Sejarah nama kota Jakarta

  • Di Abad ke-14 bernama Sunda Kelapa sebagai pelabuhan Kerajaan Pajajaran.
  • 22 Juni 1527 oleh Fatahillah, diganti nama menjadi Jayakarta (tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi kota Jakarta keputusan DPR kota sementara No. 6/D/K/1956)
  • 4 Maret 1621 oleh Belanda untuk pertama kali bentuk pemerintah kota bernama Stad Batavia.
  • 8 Januari 1935 berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia.
  • 8 Agustus 1942 oleh Jepang diubah namanya menjadi Jakarta Toko Betsu Shi.
  • September 1945 pemerintah kota Jakarta diberi nama Pemerintah Nasional Kota Jakarta.
  • 20 Februari 1950 dalam masa Pemerintahan. Pre Federal berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia.
  • 24 Maret 1950 diganti menjadi Kota Praja Jakarta.
  • 18 Januari 1958 kedudukan Jakarta sebagai Daerah swatantra dinamakan Kota Praja Djakarta Raya.
  • Tahun 1961 dengan PP No. 2/1961 jo UU No. 2 PNPS 1961 dibentuk Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya.
  • 31 Agustus 1964 dengan UU No. 10 tahun 1964 dinyatakan Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya tetap sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia dengan nama Jakarta.