Pesan Tanpa Medium

Sudah 3 bulan terakhir ini sejak saya tidak melihat televisi dan berita, kabar mengenai kepulangan Manohara yang katanya heboh itu saya dengar hanya lewat obrolan dan status-status di facebook teman.

Sengaja, dalam beberapa bulan terakhir, saya ‘berpuasa’ atas arus informasi. Dimulai 3 bulan yang lalu, saya memutuskan mengeluarkan televisi dari kamar tidur, hal yang tidak pernah saya lakukan sejak SMA,  entahlah, saya tiba-tiba merasa sangat tidak nyaman ketika asik menulis atau melamun kemudian ada berita yang menyedihkan mengenai demontrasi atau pemukulan dan penggusuran. Berita seperti itu saya ibaratkan tamu tak diundang, layaknya kita sedang makan malam bersama lalu tetangga kita mengetuk pintu dengan keras dan berteriak “perhatian”,  wajar jika saya menolak untuk diperlakukan seperti itu. Runtutan acara di televisi pun terkadang sangat seram buat saya,  setelah sinetron pada jam 3 pagi dilanjutkan acara berita nasional jam 4.30 pagi. Dan tidak perlu dipaparkan lagi bagaimana iklan membanjiri kita dengan rasa kekhawatiran.  Salah satunya iklan minuman berenergi yang diperuntukkan untuk orang yang sudah sehat agar lebih sehat. Ini sangat absurd.

Setelah televisi saya ‘anak tiri’kan, kemudian buku, koran dan majalah yang berikutnya. Saya bahkan sudah lupa kapan terakhir kali saya membaca koran. Bukan membenci, hanya sedikit sekali berita di koran/media yang mampu membuat saya optimis. Krisis global, flu babi, koalisi, hanya sebagian yang ketika hanya disebut suku katanya saja, sudah sangat membuat saya khawatir dan pesimis. So, ini hidup saya. Jika seseorang punya hak untuk memilih makanan yang bergizi untuk tubuhnya, maka kita pun punya hak untuk memilih mana konsumsi yang baik untuk  ‘pikiran’ dan ‘hati’ kita.

Saya istirahatkan pikiran, saya pakai seperlunya saja. Misal, menghitung uang kembalian, mengedit foto di photoshop, mencari kunci mobil yang suka nyelip, dan hal-hal kecil lainnya. Yang kemudian banyak protes adalah teman-teman diskusi saya, yang terkadang kesal mendengar saya berkata “indonesia gak masalah, masih oke”, mereka terus saja berdiskusi mengenai pilpres, koalisi dan terakhir mengenai manohara.

Sungguh, saya benar-benar menikmati ‘puasa’ ini. Yang saya hindari bukan informasi, hanya makin lama saya sadar bahwa substansi informasi adalah pesan dan pesan tidak harus dibentuk (form). Media adalah medium yang membentuk pesan itu menjadi suatu in-form-asi, gelas  dengan warna ‘kuning’ diinformasikan berwarna kuning menurut konsep kuning yang selama ini kita terima sebagai kebenaran. Jika seseorang mengatakan gelas  itu hijau, maka proteslah yang bernama kebenaran. Meskipun sebenarnya, warna sama juga yang terlihat oleh orang itu. +++