No Worry On War

Sugeng Ndalu

Tergoda untuk menulis saat jam sudah menunjuk angka satu, sesaat setelah membaca tulisan ‘damainya perang’. Tulisan saya di bawah hanya sekelebat yang muncul di hati dan pikiran saja. Sangat berpotensi untuk salah. Seperti saya yang menulis dengan perlahan, anda dapat membacanya juga dengan perlahan.

Agak sulit mencari darimana bahasa Indonesia menyerap kata ‘perang’ sehingga masuk dalam perbendaharaannya. Atau mungkin saja ada hubungannya dengan kata ‘perangai’karena mirip. Seperti kata ’senjata’ yang diambil dari bahasa sanskrit/jawa kuno yaitu’sajitta’. Dan menariknya hingga tulisan ini dibuat, penulis masih dibingungkan dengan kata’sagitta/sagittae’ yang juga terdapat pada bahasa yunani kuno yang berarti ‘anak panah/arrow’ yang juga diterjemahkan menjadi ’senjata’. Lalu siapa mempengaruhi siapa tentu tidak perlu diperdebatkan, bagi saya tentu saja bahasa Jawa kuno yang mempengaruhi Yunani kuno. Mengapa? Sederhana, karena saya orang jawa.

Perang adalah WAR dalam bahasa Inggris. Definisi resminya mengatakan bahwa perang/wartidak sama dengan pendudukan (occupation), pembunuhan (murder), dan genosida. Karena war/perang adalah kejadian yang terjadi karena disepakati oleh kedua belah pihak, atau disebut reciprocated/asas resiprositas. Dalam konteks ini, perang yang dilakukan oleh sekelompok orang/negara dalam rangka non resiprositas adalah tidak termasuk definisiwar/perang. Mengapa perang dapat terjadi? Salah satunya adalah karena serangan (fisik) dari pihak luar yang dianggap mengancam keselamatan daerah tertentu. Sehingga perlulah dibentuk yang namanya ‘warrior’ yaitu prajurit perang. Dari yang awalnya milisi menjadi tentara profesional. Apa beda keduanya? Milisi (bisa mungkin) dibayar namun tidak digaji sedang tentara professional mendapatkan gaji.

Yang mengkhawatirkan pada kondisi saat ini, adalah war/perang yang dibentuk sedemikian rupa agar orang selalu merasa dalam keadaan perang.

Seorang pemasar/marketing contohnya, mendapatkan ilmu mengenai pemasaran oleh buku dan pengajar dengan karakter/typical ‘warrior’. Mereka diajarkan bahwa selain perusahaannya adalah musuh (competitor). Kekurangan perusahaan competitor harus disebarluaskan, kekurangan perusahaan kita harus disembunyikan. Maka dalam pemasaran dikenal strategi dan trik (tricky dlm bahasa inggris artinya menipu). Tak beda dengan strategi perang abad pertengahan. Anda bisa mencari, siapa penemu awal strategi marketing pertama kali, dan hubungannya dengan perang/war tadi, anda akan terkaget setelahnya.

Dalam konteks politik, keadaan perang berlangsung abadi. idiom ‘tidak ada kawan dan lawan yang abadi’ sudah cukup menjelaskan bahwa dunia politik an sich adalah sebuah arena peperangan (war battle) yang tak berujung dan tak berpangkal. Keadaan perang telah terjadi pada semua struktur, dan makin meluas. Dari tingkat organisasi Karang Taruna, partai politik hingga tingkat organisasi pemerintah. Yang bahkan kita sendiri terkadang tidak sadar, bahwa kita diseret dengan sangat tertata/sistemik untuk itu. Persaingan, kompetisi, pertumbuhan, peningkatan sumber daya adalah kata lain dari perang/war. Seperti ’sajitta’dengan ’senjata’.

Yang terjadi pada masyarakat bukanlah WAR seperti definisi resmi itu, namun WORry yang akhirnya menciptakan manusia WORRIER. Ah, sepertinya sama bukan dengan WARRIOR ??

So, Don’t Worry Be Happy. We’ll be yours.