Bekicot dan Kura-Kura Untuk SituGintung

Suatu budaya buat komunitas kami, bahwa setiap sesuatu meski kecil selalu didiskusikan dan di maknai untuk kebaikan bersama. Pada persiapan acara Maiyah SituGintung beberapa waktu lalu, publikasi memegang peran penting. Banyak elemen yang sangat menjadi perhatian kami saat itu. Pesan terutama adalah kesederhanaan konsep acara, sesuatu yang memang kami utamakan melihat kondisi masyrakat sekitar yang baru saja dilanda bencana.

Draft design poster acara kami, pada awalnya diberi background gambar rumah, masjid yang rusak dan kampung yang rata oleh terjangan lumpur. Setelah diskusi beberapa kali, kami merasa kurang sreg. Sepertinya terasa sedih juga jika mereka (warga) melihat rumah dan kampungnya yang hancur setelah lama mencoba melupakan kejadian bencana itu. Seperti mengembalikan mimpi buruk.

Sebelumnya ketika survey dan pengumpulan data dilapangan, saya beberapa kali memotret anak-anak kecil yang bermain-main di sekitar lokasi pengungsi. Dan banyak sekali saya mendapat gambar kegembiraan dalam wajah mereka, tidak nampak kesedihan seperti yang tertera pada poster-poster dan pesan-pesan sosial yang di jalan. Ini bagus sekali, kami mulai berpikir, bahwa nantinya ketika masyarakat melihat poster kami, tidak boleh ada kesedihan, harus tertawa dan tersenyum minimal. Kenapa tidak ditampilkan gambar anak-anak kecil tadi itu?

Setelah coba kami design ulang, gambar dengan warna cerah dan penuh kegembiraan anak-anak kecil, kemudian ada panitia yang protes. Mereka bilang poster ini seperti acara bermain anak-anak, tidak cocok. Ada tiga stake holder di acara ini, Pemerintah Kota, Warga/Korban dan Komunitas, harus proporsional katanya. Semua harus dihargai, dalam proses laporan birokrasi pemerintah ya memang harus ditampilkan gambar bencananya, karena biasa untuk laporan dan dokumentasi formal seperti itu.

Oke, berarti harus ada gambar bencananya, dan anak kecilnya. Tapi bagaimana menggabungkan dua hal itu? Waktu sudah sangat mepet, tinggal 5 hari lagi dan publikasi belum jalan.

Salah satu tim dari kami memberi input, “sudah kasi gambar bekicot aja”, ah pasti dia bercanda. Setelah kita telaah, bekicot itu selalu membawa rumah bersamanya, jadi ketika ada banjir atau bencana, bekicot tidak pernah kehilangan rumah. Pesan yang bagus. Korban bencana ini tidak boleh sampai merasa kehilangan rumahnya, karena rumah sebenarnya adalah dalam hati mereka, dalam kebahagiaan dan kegembiraan anak-anak mereka. Pemerintah harus menjamin hal itu. Dan acara kami nantinya akan memastikan Pemerintah siap melakukan itu, warga pun kita ajak untuk percaya dengan ‘ayah’ mereka yaitu Walikota. Itu pesan utama acara ini. Kami, Komunitas KC, tidak punya peran apa-apa. Minimal jika kami tidak mampu menyelesaikan masalah mereka, kami tidak mau menambahinya.

Alhamdulillah, biaya acara dsb, tidak dibebankan kepada Pemerintah Kota, mereka duduk manis saja, karena nantinya merekalah yang akan bekerja keras, bukan kami. Justru kami dititipin orang Taiwan (entah mimpi apa Taiwan ini) untuk menyerahkan bantuan sebesar 70.000 US Dollar cash, sampai bingung sendiri kita memegang lembaran-lembaran segitu banyaknya. Wah, begini rasanya jadi filantropis sehari. Lumayan.

Tapi bekicot kurang internasional, maka kita pilih Kura-Kura sebagai image utama poster kami. Dan semua pun bergembira. +++