Bisnis dan “Corporate Philanthropy”

Berbisnislah sehebat-hebatnya untuk mengumpulkan profit sebanyak mungkin. Hanya dengan meraih laba dan memupuknya secara berkesinambungan, perusahaan dapat terus eksis dan berkembang sehingga mampu menyejahterakan karyawannya, dan kemakmuran bangsa dengan pembayaran pajaknya. Perusahaan sehat, karyawan pun sehat. Boleh jadi merupakan jargon yang sudah usang. Apalagi jika dalam suatu perusahaan yang untung dan terus menggurita, namun karyawannya masih bersitegang soal uang makan, uang transportasi, dan uang lembur. Sungguh menyedihkan!

Komunitas bisnis di berbagai negara telah berpikir dan bertindak lebih jauh. Telah lama berkembang kesadaran di kalangan komunitas bisnis bahwa pembangunan berkelanjutan hanya akan dapat dipertahankan kalau ada keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup.

Pemilik modal telah menyadari, di balik bisnis ada pula tanggung jawab sosial (corporate social responsibility/ CSR). Bukan lagi sekadar keseimbangan antara pemilik modal dan pekerjanya.
Pembangunan berkelanjutan harus dibangun atas dasar kerangka bahwa bisnis akan dapat tumbuh subur di atas masyarakat yang sejahtera. Karena itu, perlu menyeimbangkan aspek ekonomi berupa mencari keuntungan dengan pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan hidup.

Salah satu bentuk tanggung jawab sosial diwujudkan dalam bentuk filantropi perusahaan (corporate philanthropy), derma perusahaan untuk aktivitas sosial masyarakat.
Berasal dari bahasa Yunani, philein yang berarti cinta dan anthropos yang berarti manusia. Filantropi bisa kita pahami sebagai seseorang yang mencintai sesama manusia.philanthropyFilantropi perusahaan, dengan sederhana bisa kita artikan sebagai derma perusahaan untuk kemanusiaan.

Ide filantropi perusahaan antara lain berlandaskan pada pemikiran bahwa tidak semua persoalan sosial kemanusiaan tertangani pemerintah, pengusaha dan perusahaan memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat dan lingkungan. Keberlangsungan hidup perusahaan juga sangat tergantung pada keberlangsungan hidup dan dukungan lingkungan masyarakat, tempatnya berpijak.

Kini semakin banyak pebisnis dan perusahaan yang melaksanakan filantropi perusahaan dengan menembus batas negara, lintas ras dan budaya. Di Indonesia, gerakan semacam ini pun pernah marak pada era Soeharto, dengan program kemitraan berupa ”paksaan” bagi perusahaan untuk menyisihkan sebagian kecil keuntungannya guna membantu pengembangan masyarakat kurang beruntung, termasuk usaha kecil dan menengah.

Ada yang berhasil dan berkelanjutan, namun tidak sedikit yang hanya menjadi ajang korupsi dan kandas di tengah jalan. Nun jauh di tengah hutan Sulawesi Selatan pada awal tahun 1990-an, misalnya, tanpa ”komando” pemerintah, perusahaan pertambangan PT Inco telah mendirikan program diploma teknik (D-2) yang mengutamakan bagi anak-anak sekitar pertambangan, yang jelas tertinggal dari berbagai aspek kehidupan.

Pendidikan ini kemudian menjadi Akademi Teknik Soroako. Alumninya telah tersebar di berbagai perusahaan tambang seantero Nusantara. Untuk program yang lebih singkat, hanya setahun, Inco mendirikan Pusat Pelatihan Industri dengan tujuan yang sama.

Perusahaan yang juga lebih gebyar dengan filantropi di Indonesia, yaitu PT HM Sampoerna. Perusahaan rokok ini berhasil menancapkan citra yang mendalam tentang sosok dunia usaha yang memiliki wajah kemanusiaan. Filantropi Sampoerna saat ini, mesti dicermati dua sisi yang berbeda, yakni Sampoerna Foundation dan kegiatan yang bersifat tanggung jawab sosial PT HM Sampoerna.

Sampoerna Foundation didirikan tanggal 1 Maret 2001 atas visi Putera Sampoerna, Presiden Komisaris PT HM Sampoerna Tbk.Sejak awal, Sampoerna Foundation didirikan sebagai lembaga nirlaba yang mandiri, terpisah dari PT HM Sampoerna, dan didedikasikan untuk memperbaiki sektor pendidikan di Indonesia dan memberikan kesempatan bersekolah bagi generasi muda Indonesia yang memiliki prestasi akademis baik.

Untuk itu, manajemen Sampoerna waktu itu memutuskan memberikan dua persen dari laba bersih perusahaan setiap tahunnya kepada Sampoerna Foundation.Sebagai gambaran, laba bersih HM Sampoerna tahun 2005 sebesar Rp 2,38 triliun. Bisa dihitung sendiri, dua persen dari jumlah itu diserahkan kepada Sampoerna Foundation.

Selain dari PT HM Sampoerna, Sampoerna Foundation juga memiliki banyak donatur institusi maupun perorangan, antara lain Bank Bukopin, Lubis-Ganie-Surowidjojo, Credit Suisse, HSBC Republic Bank (Suisse), PT Siemens Indonesia, dan PT Microsoft Indonesia.

Selain menghibahkan dua persen laba bersih setiap tahun kepada Sampoerna Foundation, PT HM Sampoerna juga mempunyai berbagai kegiatan CSR, seperti kemitraan tembakau, kemitraan produksi sigaret, program bina warga, yaitu program aktivitas sosial ekonomi pendidikan di sekitar pabrik, program bimbingan anak, penyediaan perpustakaan, penghijauan, dan tim Sampoerna Rescue.

Program kemitraan tembakau melibatkan 2.035 petani dengan luas lahan 4.820 hektar dan menghasilkan 10.650 ton tembakau setiap tahun.Perusahaan menyediakan kebutuhan bibit, pupuk, pestisida, serta memberi pelatihan penanaman dan pemeliharaan tembakau sesuai standar kualitas perusahaan. Hasil panen dibeli perusahaan dengan memperhitungkan harga bibit, pupuk, dan obat- obatan.

Program kemitraan produksi sigaret saat ini mencakup 32 unit produksi di Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Barat. Terdiri dari sembilan koperasi, tiga pondok pesantren, dan 20 perusahaan kecil menengah, program ini merekrut lebih dari 51.000 pelinting rokok. Bisa dibayangkan pergerakan ekonomi yang dihasilkan di sekitar unit tersebut.

Tujuannya bukan sekadar memberi mereka modal. Kalau pelajar, bagaimana dia menjadi pelajar benar, pengusaha UKM (usaha kecil dan menengah) menjadi pengusaha profesional, dan relawan menjadi relawan yang benar.

Masyarakat sekitar
Adapun kelompok usaha Indofood Sukses Makmur Tbk memprioritaskan kegiatan CSR pada masyarakat di sekitar pabrik. Setiap tahun disediakan beasiswa bagi 60 anak kurang mampu di satu kelurahan sekitar pabrik selama satu tahun. Tahun berikutnya, giliran kelurahan lainnya.

Divisi Bogasari, misalnya, karena hubungan bisnisnya dengan UKM, maka fokus kegiatan CSR pada daerah atau desa tempat para UKM berada. Bogasari menyelenggarakan pendidikan untuk tukang roti, pengusaha kecil yang selama ini menjadi mitra bisnis, maupun siapa saja yang ingin mulai berusaha.

Targetnya adalah mencetak pengusaha mandiri. Bogasari Baking Center mendidik mereka membuat berbagai makanan, seperti roti, martabak, mi, dan lainnya. Kegiatan ini dimulai sejak tahun 1996.

Ketika disadari bahwa negara tak mampu menyediakan anggaran untuk pemberdayaan masyarakat, perusahaan bisa tampil mengambil alih sebagian tanggung jawab itu. Pemerintah tinggal membangun kesadaran perusahaan dan mendorongnya melaksanakan tanggung jawab tersebut.

Pemerintah tinggal memberi fasilitas dan kemudahan bagi dunia usaha agar semakin nyaman berusaha. Bukan sebaliknya, ”memeras” perusahaan dengan segala macam pungutan dan beban lainnya, di luar pajak untuk penerimaan negara.

Semakin banyak anggaran yang dihabiskan perusahaan untuk tanggung jawab sosial, kemanusiaan, lingkungan, pengiriman sumber daya manusia ke luar negeri untuk meningkatkan kompetensi dan daya saingnya, seharusnya semakin besar pula insentif yang diperoleh dari negara. Ini salah satu perwujudan ”Indonesia Incorporated”.  

Oleh: Andi Suruji/Ardhian Novianto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s