Dari Krisis Menuju Depresi

Spekulatifisme Derivatif

Menyalahkan sistem ekonomi kapitalisme menjadi penyebab utama krisis ekonomi global, sudah tidak memberikan jawaban dan solusi yang konstruktif atas krisis. Dalai Lama, pemimpin tibet, mengatakan bahwa sistem ekonomi diatas kertas yang kita sebut kapitalisme, sosialisme, dll, sudah sangat tidak relevan lagi. China yang mengklaim sebagai negaraqrule_still1 sosialisme pun melakukan praktik-praktik ekonomi yang kapitalistik dan sebaliknya negara-negara kapitalis pun tidak semerta-merta mengagungkan dirinya. Bagi Dalai Lama, sistem apapun di atas kertas jika tidak memberikan manfaat yang langsung kepada masyarakat, adalah sistem yang buruk.

Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari krisis yang terjadi saat ini? Dan apa hubungannya dengan kita? Think Global Act Local. Kalimat itu pernah penulis dapat dari orang bijak, yang (kira-kira) artinya, berpikirlah secara global/luas namun tindakan kita bersifat lokal dan kontekstual.

Perekonomian Amerika beberapa minggu terakhir terhenyak dengan kasus Madoff. Bernard Lawrence “Bernie” Madoff adalah seorang pendiri dan mantan direktur/chairman NASDAQ  Stock Market [1]  yang telah lama dikenal dengan baik oleh masyarakat pelaku saham disana. Reputasi baiknya dibangun dengan track record perusahaan sekuritasnya yang telah lama ia rintis sejak tahun 1960. Pada tanggal 10 desember 2008, Madoff mengatakan pada anaknya bahwa menajemen dan asset perusahaannya selama ini memakai skema Ponzi yang massif, dengan kata lain, sebuah kebohongan besar. Keesokan harinya ia ditahan oleh polisi setempat karena disangka telah melakukan penipuan dalam bentuk investasi sebesar 50 Milyar US dollar milik nasabahnya dengan memainkan pola Ponzi / Ponzi Scheme [2]. Kasus Madoff menurut TIME, mungkin adalah kasus penipuan investasi terbesar yang pernah dilakukan oleh seorang manusia dalam sejarah perekonomian Amerika [3].

Dalam perilaku ekonomi, hal tersebut masih ‘wajar’, namun ketika krisis besar melanda pasar saham yang mengakibatkan jatuhnya nilai saham sampai sedemikian besarnya, maka yang terjadi adalah hilangnya dana nasabah. Tampak beningnya kerapuhan itu terlihat. Betapa tampaknya keserakahan menjadi wajar.
houseofcards-big

Dalam konteks lokal (indonesia) juga mengalami hal yang hampir serupa, namun media dan kita begitu mudah sekali dikelabui seakan-akan tidak ada hal yang fundamental yang salah. Minggu kemarin, salah satu petinggi Bank Syariah terkemuka, ‘hampir’ ditahan karena disangka melakukan transaksi derivatif [4], suatu pola transaksi yang tidak diperbolehkan dalam hukum ekonomi syariah karena dianggap spekulatif atau mengandung unsur judi. Namun lama setelahnya, terdengar bahwa transaksi tersebut legal.

Produk derivatif yang dikeluarkan suatu lembaga tentu sah dan legal, kalau kasus Madoff,  ‘terdengar’ legal. Namun perbedaan tersebut sangatlah tipis, dan kecenderungan pelaku saham dan sejenisnya yang terkadang sangat spekulatif menjadi ruang yang sangat kondusif untuk penipuan dan pencurangan.

Tidak beretika atau melanggar hukum ?    

Yang dilakukan oleh Madoff sampai saat ini belum merupakan tindakan kriminal, ia akhirnya ‘hanya’ menandatangani perjanjian dengan pengadilan Distrik New York untuk membekukan assetnya, dan tidak diperbolehkan bekerja yang berhubungan dengan industri finansial dan hukum sekuritas seumur hidupnya. Perjanjian tersebut tidak mengharuskan Madoff untuk menolak atau mengakui tuduhan yang diberikan kepadanya.

Sampai saat ini transaksi derivatif yang dilakukan perbankan pun masih legal [5]. Asalkan tak ada unsur spekulatif layaknya perjudian dan bukan derivatif dari perjanjian kredit. Sekedar pengetahuan, transaksi derivatif (structured product) adalah transaksi yang didasari oleh suatu kontrak atau perjanjian pembayaran yang nilainya merupakan turunan dari nilai instrumen yang mendasari seperti, suku bunga, nilai tukar, komoditi, ekuiti dan indeks, baik yang diikuti dengan pergerakan atau tanpa pergerakan dana atau instrumen, namun tidak termasuk transaksi derivatif kredit (Pasal 1 (2) PBI No. 7/3/PBI/2005). Sederhananya, derivatif merupakan kontrak bilateral atau perjanjian penukaran pembayaran, dimana pelaku pasar membuat suatu perjanjian untuk saling mempertukarkan uang, aset atau suatu nilai di masa yang akan datang dengan mengacu pada aset yang menjadi acuan pokok. Dalam perkembangannya, rumusan dan transaksi derivatif kian kompleks. Awalnya transaksi ini bertujuan untuk transaksi lindung nilai kurs valuta asing dari fluktuasi nilai tukar mata uang dalam negeri. Belakangan transaksi ini semakin rumit dan digunakan untuk tujuan spekulasi tanpa ada perjanjian pokok yang mendasarinya (underliying transaction). Kecanggihan rumus-rumus investasi keuangan yang ditawarkan oleh bankir pada nasabahnya juga menjadikan produk transaksi derivatif sangat cenderung menyesatkan. Dalam aspek yuridis, menurut PBI, transaksi derivatif adalah suatu kontrak [6]. Mengenai sifat perjanjian produk derivatif yang spekulatif  mempunyai kedekatan arti dengan transaksi yang disebutkan dalam Pasal 1774 KUHPerdata sebagai suatu perjanjian untung-untungan, yaitu: “Suatu Perjanjian untung-untungan adalah suatu perbuatan yang hasilnya, mengenai untung ruginya, bergantung pada suatu kejadian yang belum tentu.  Demikian adalah : perjanjian pertanggungan, bunga cagak hidup, perjudian dan pertaruhan“. Artinya, jika memang dapat dibuktikan secara hukum bahwa transaksi derivatif tersebut mengandung unsur bentuk perjudian ataupun pertaruhan, menurut pasal 1788 KUH Perdata tidak akan memberikan hak bagi kreditur yang timbul dari perjanjian tersebut untuk menagih pembayaran dari debitur sebagai pihak yang berkewajiban untuk melakukan pembayaran atas transaksi derivatif yang telah terjadi. Mudahnya, tidak ada kewajiban bagi kedua belah pihak untuk memenuhi prestasinya.

Yang menjadi perhatian kita saat ini adalah bagaimana dan apa yang dapat kita jadikan pelajaran bersama atas sistem ini?

Publik dan pelaku ekonomi di Amerika sangat sadar akan kerapuhan struktur fundamental ekonominya, bubble effect-Ponzi Scheme-dll, adalah hasil dari permainan yang selama ini mereka jalani. Dan saat ini mereka sudah memulai langkah untuk beretika dalam bisnis dan berinvestasi, hal yang sudah disadari dan telah dimulai oleh sebagian negara-negara Eropa beberapa tahun sebelumnya.

Krisis yang bergulir saat ini bermula dari krisis macetnya kredit perumahan di Amerika, yang berujung pada nilai saham dan ekonomi global. Terjadi perubahan fundamental dalam pola pikir ekonomi orang Amerika, mereka sudah berpikir bahwa mereka (orang amerika) dapat hidup di atas uang orang lain. 30 tahun lalu di amerika, investasi yang dilakukan bank (bank melakukan investasi, bisa anda bayangkan??) sekitar 4-1 atau sekitar 5 banding 1, saat ini perbandingannya menjadi 30-1. Terjadi perubahan fundamental dari perekonomian mereka. Awalnya mereka (orang Amerika) hidup di atas uang orang China,  Timur Tengah, dll, saat ini sudah berantai sampai ke negara-negara berkembang seperti Indonesia dan India melalui produk-produk dari perbankan asing yang bercabang di negara-negara tersebut. Tidak heran jika saat ini terdapat laporan kasus kerugian dalam transaksi derivatif makin marak di Indonesia.derivative-proof-web

Gao Xiqing, presiden China Investment Corporation, sebuah perusahaan investasi Cina-Amerika yang mengelola aset perusahaan-perusahaan cina di amerika senilai 200 milyar dollar, menjelaskan dengan sangat sederhana mengenai transaksi derivatif. Ia menggunakan model gambar dalam cermin (mirror image). Pertama-tama, anda mempunyai sebuah buku untuk dijual. Buku itu mempunyai nilai jual, karena didalamnya ada para pekerja dan anda sendiri. Lalu orang lain berkata, “Saya tidak harus menjual buku anda itu! Saya punya cermin, dan saya dapat menjual gambar/image cermin buku anda itu!” Oke. Itulah sertifikat saham. Lalu datang seorang lain lagi dan berkata, “Saya punya cermin yang lain – Saya juga dapat menjual gambar/image cermin dari cermin itu.” Itulah derivatif. Tapi okelah, tidak terlalu masalah untuk beberapa waktu. Lalu anda tanpa disadari  sudah mempunyai 10,000 cermin, dan gambarnya tampak nyaris sempurna. Orang-orang bahkan sudah sangat percaya bahwa cermin-cermin itu adalah hal yang nyata. Dan ketika makin banyak dan banyak, tampak gambar dalam cermin itu sudah tidak sama, dan terus terjadi tanpa ada yang mengkontrol. Itulah ekonomi Amerika. Pertanyaannya, bagaimana mereka dapat menjual buku yang hanya tampak di cermin? Bukankah pasti ada distorsi? Tapi memang itulah yang terjadi dalam ekonomi Amerika. Kalaupun mereka dapat menghilangkan 90 persen dari cermin (derivatif) itu, tentu bisa, namun sangat tidak populer, karena itu berarti banyak orang yang akan kehilangan pekerjaan.

Akhirnya perilaku ekonomi global juga menjadi perilaku ekonomi lokal kita. Penulis tidak mencoba untuk menyalahkan, tapi mende-informasi kembali sistem yang sudah kta anggap sebagai suatu kewajaran.

Bank Dasar

Penulis akan mulai dari hal yang mendasar dan sederhana yaitu fungsi dasar dari bank itu sendiri. Kalau menilik definisi resmi UU Perbankan dan kamus besar, bahkan dictionary bahasa inggris (karena kata ‘bank’ merupakan kata serapan dari bahasa asing/inggris) tentu butuh kajian khusus [7]. Ada common term / arti umum bank yaitu tempat yang aman untuk menyimpan sesuatu, dalam bahasa Inggris “a place where something may be safely kept“, dalam hal ini paling utama adalah uang. Pada dasarnya, ketika seseorang menaruh uangnya di bank, ia tidak mengharapkan sesuatu yang berlebih kecuali jaminan atas keamanan uangnya. Jaminan bahwa ketika suatu saat ia membutuhkan dana -yang memang miliknya- maka dana itu dengan mudah ia ambil tanpa berkurang. Lalu bagaimana dengan jasa ‘pengamanan’ yang dilakukan bank? Bagaimana mereka dapatkan upah dari jasa itu? Oke, orang yang menyimpan uangnya di Bank punya kewajiban untuk membayar sejumlah biaya untuk kompensasi atas jasa yang diberikan. Wajar dan rasional. Sama analoginya seperti buku yang akan kita jual dalam ilustrasi sebelumnya di atas.

Begitu sederhana prinsip dasar dibentuknya bank. Namun apa sudah menjadi prinsip dari pelayanan bank?

Tidak juga. Penulis pernah diceritakan mengenai pengalaman seorang teman yang ingin menyimpan uangnya (dalam jumlah besar) di salah satu Bank swasta asing di Kelapa Gading. Ia menceritakan kenyamanan yang ia peroleh dari pelayanannya, kertas formulir aplikasi sangat sederhana dan pegawainya sendiri yang menulis berdasarkan data yang didapat dari nasabah. Pegawainya santun dan menjelaskan dengan sangat baik performance bank tersbut. Seakan-akan ia berkata “dana anda aman bersama kami”. Bandingkan dengan pelayanan pada Bank nasional kita, untuk menyimpan uang kita sendiri, kita diminta menulis sendiri aplikasi yang sedemikian banyaknya. Bahkan ada pertanyaan “Siapa nama ibu kandung anda?” Kita ditawari produk-produk yang tidak ada hubungannya dengan tujuan kita datang ke bank :  asuransi, undian berhadiah, kredit rumah. Hey, saya hanya mau menyimpan uang. Cara tim marketing mereka menarik dana pun adalah dengan iming-iming hadiah mobil mewah, rumah besar, dll. Sesuatu yang bahkan bank di Amerika pun tidak melakukan itu. Seharusnya yang ditawarkan, bahwa perusahaan bank itu menjamin keamanan dana kita. Sangat lucu kalau anda datang ke Bank justru yang tampak adalah tulisan “Dana anda dijamin oleh Pemerintah melalui Lembaga Penjamin” Lho, jadi bukan Bank ini yang menjamin, justru lembaga lain.

Kembali pada bahasan kita, dana yang terserap di Bank dari masyarakat, sangat besar dan liquid/cair/riil. Maka pada awalnya adalah pemerintah sendiri yang mengelola perbankan yang tujuan berikutnya untuk pengelolaan dana tersebut sebagai pengembangan ekonomi riil dalam bentuk pemberian kredit/pinjaman usaha. Ketika Bank didominasi oleh swasta, fungsinya juga tidak berbeda, yaitu membantu pemerintah dalam mengembangkan perekonomian itu. Wajar jika pemerintah membuat aturan/regulasi yang mengakomodir kebutuhan dari investor perbankan. Industri perbankan pun mengklaim bahwa sebagian besar dananya dialokasikan untuk kredit usaha baik kecil maupun besar, dari sektor pertanian, usaha kecil sampai kredit real estate.

Namun dalam praktek tidak seperti itu, perbankan melakukan investasi di saham, valuta/mata uang dan semacamnya. Dalam berbagai wawancara yang penulis lakukan, perbankan justru mengalokasikan sebagian besar dananya dalam wilayah itu. Dana-dana masyarakat, alih-alih diberikan untuk kredit usaha masyarakat, malah digunakan untuk mencari keuntungan/profit perusahaan. Saham dan semacamnya kecenderungan sifatnya merupakan tindakan spekulatif, judi dalam bahasa agama.  Sangat terang bahwa perilaku tersebut menciderai kepercayaan nasabah yang besar terhadap institusi perbankan. Definition of fraud

Itulah gambaran sederhana dari produk-produk derivatif dari perbankan. Baik yang nasabah ketahui secara langsung maupun yang tanpa diketahui, perbankan merasa punya ‘hak’ atas dana kita. Demi mengejar profit dan profit, perbankan sah melakukan itu. Hal tersebut yang penulis sebut sebagai perubahan struktur fundamental perilaku ekonomi kita, dari kapitalisme produktif direduksi menjadi kapitalisme spekulatif. Dan banyak orang super kaya yang bertumpu pada hal semacam itu. Efeknya terjadi pada karyawannya, nasabahnya dan apapun yang berinterseksi di situ. Mungkin sebagian besar dari kita hanya orang yang bergantung dari kebanyakan mereka.  (ron)

Catatan Kaki:

[1] NASDAQ, aslinya sebuah singkatan untuk National Association of Securities Dealers Automated Quotations, adalah sebuah bursa saham yang dioperasikan oleh National Association of Securities Dealers. Ketika memulai perdagangan pada 8 Februari 1971, NASDAQ merupakan bursa saham elektronik pertama di dunia.

Sejak1999, ia adalah bursa saham terbesar di Amerika dengan lebih dari setengah jumlah perusahaan yang diperdagangkan di AS dicatat di sini. NASDAQ terdiri dari NASDAQ National Market dan NASDAQ SmallCap Market. Bursa utamanya terletak di Amerika Serikat.

[2] Ponzi Scheme perupakan istilah dalam ekonomi Amerika, adalah perilaku operasi penipuan dalam bentuk investasi. Ponzi Scheme biasanya menawarkan tingkat pengembalian investasi yang tidak normal dalam term yang relatif singkat dalam rangka untuk menarik perhatian investor-investor baru. Tingkat pengembalian investasi yang tinggi dan singkat itu diperlukan unutk terus meningkatkan aliran dana dari investor yang akhirnya membuat skema tersebut terus berjalan. Nama skema tersebut diberikan setelah kasus Charles Ponzi pada tahun 1920, yang begitu sangat terkenal dalam mempraktekkan skema itu. Ponzi sendiri tidak dengan sadar menciptakan skema tersebut, namun operasinya telah mengambil dana yang sangat besar dari investornya sehingga sangat terkenal di seluruh Amerika. Yang ia lakukan berbasis memfasilitasi pertukaran kupon stempel pos antar negara. Perbedaan nilai mata uang antar negara dimanfaatkan untuk meraih keuntungan investor dan dirinya pribadi. Pola seperti Ponzi sebenarnya dapat menjadi rasional saat ini.

[3] Dari data U.S. Bankruptcy Court per tanggal 4 Februari 2009, terdapat 162 halaman yang berisi ‘ribuan’ daftar klien Madoff, sebagian telah menengguk keuntungan. Sebagian besar kehilangan dananya, meliputi, bank, lembaga keuangan, yayasan, universitas, dan individu-individu yang sangat kaya, mendekati angka 40 Milyar US Dollar, termasuk diantaranya, Solomon Brother, Henry Kaufman, Steven Spielberg, actor Kevin Bacon, John Malkovich, dan banyak lagi.

Menurut Wall Street Journal, investor-investor yang kehilangan dana potensialnya adalah:

  • Fairfield Greenwich Advisors sebanyak $7.50 Milyar
  • Tremont Capital Management sebanyak $3.30 Milyar
  • Banco Santander sebanyak $2.87 Milyar
  • Bank Medici sebanyak $2.10 Milyar
  • Ascot Partner sebanyak $1.80 Milyar
  • Access International Advisors sebanyak $1.40 Milyar
  • Fortis sebanyak $1.35 Milyar
  • HSBC sebanyak $1.00 Milyar

[4] Transaksi dan produk derivatif adalah produk turunan yang terkait dengan transaksi nilai mata uang, saham, suku bunga deposito, equitas, serta komoditas,

[5] Pengaturan transaksi semacam itu sudah diatur sejak 2005 melalui Peraturan BI No. 7/3/PBI/2005 tentang Transaksi Derivatif. PBI itu mengatur transaksi derivatif yang dibolehkan dan dilarang.

[6] Jika kita merujuk pada keabsahan kontrak pada KUHPerdata, maka syarat-syarat yang menjadi dasar keabsahan suatu kontrak diatur dalam Pasal 1320 KUH perdata, yaitu : (a) adanya kesepakatan para pihak, (b) mempunyai  kapasitas/wewenang untuk berkontrak, (c) obyek yang diperjanjikan jelas, (d) kausa yang diperjanjikan halal.

[7] Menurut Undang-undang Negara Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 Tanggal 10 November 1998 tentang perbankan, yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s