Etika Sebagai Otoritas Moral

Etika, pengertian kata yang masih absurd. Ada yang beranggapan etika merupakan suatu bentuk dari tingkah laku kita, ada juga yang beranggapan etika berhubungan dengan suatu nilai agama. Tentu mendefinisikan dan mengaplikasikan etika dalam kehidupan kita langsung menjadi sesuatu yang janggal dan jauh sekali dari jangkauan kita. Banyak persepsi etika atas perasaan yang ia anggap baik, tapi tentunya perasaan setiap orang sangat berbeda, dan pada kenyataannya dapat memberikan suatu gambaran yang tidak objektif. Dan jika etika dihubungkan dengan institusi agama, menurut penulis juga kurang tepat, meskipun agama sendiri mempunyai standard etika yang sangat luhur dan tinggi, namun beberapa kali penulis menemukan orang yang tidak menerima agama sebagai sebuah institusi bagi dirinya (atheis) namun ia sendiri mempunyai standard etika yang tinggi. Etika juga tidak berbanding lurus dengan mentaati peraturan hukum, karena dalam beberapa negara, yang diakibatkan sejarah negara tersebut, seringkali menerapkan hukum yang tidak memenuhi standard etika, seperti Afrika selatan (dahulu) dengan politik apratheidnya. Norma dan hukum merupakan produk yang dihasilkan dari suatu kebiasaan yang tentunya dapat berubah-ubah sesuai dengan persepsi, interpretasi, asosiasi dan orientasi. Artinya, ber-etika tidak sama dengan melakukan segala sesuatu yang dapat diterima oleh masyarakat, karena pada masyarakat tertentu, nilai-nilai yang ada dalam masyarakat sangat dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaaan masyarakat tersebut. Untuk memutuskan bahwa aborsi itu sesuatu yang etis atau tidak, tentu juga dipengaruhi oleh kondisi masyarakat suatu daerah tertentu, di beberapa negara bagian di Amerika Serikat, aborsi di sahkan, dan produk hukum tersebut memang reperesentasi dari masyarakatnya didasarkan atas survey di negara bagian tersebut. Jika standard etika didasarkan atas survey tentunya akan menghasilkan sesuatu yang sangat berbeda-beda di tempat lain mengenai suatu isssue tertentu. Lalu, apa itu etika? Etika mencakup dua hal, pertama adalah etika yang merujuk pada sesuatu sikap maupun perilaku mengenai sesuatu yang baik dan buruk bagi manusia. Sesuatu kebaikan yang tidak dibatasi dan lebih tinggi nilainya daripada norma dan hukum dalam masyarakat. Etika meliputi analisis mengenai baik, buruk, keadilan dan tanggungjawab. Suatu nilai-nilai yang diterima secara universal, tanpa batasan kultur, kebiasaan dan budaya. Yang kedua adalah etika merupakan suatu studi berkelanjutan mengenai suatu issue standard etika tertentu. Seperti yang telah dijelaskan, bahwa perasaan, hukum dan norma sosial dapat menurunkan kualitas suatu issue yang dianggap etis, sehingga diperlukan suatu kajian terus menerus mengenai suatu issue mengenai etika. Mempelajari terus menerus mengenai keyakinan aturan-aturan moral yang kita miliki dan berusaha untuk menjadikan masyarakat yang ‘well based ethics’ adalah substansi dari etika itu sendiri. (ron)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s