Garuda Dalam Sangkar

Hadiah Terbesar

Kutipan dibawah ini diambil dari tulisan John Pilger atas wawancaranya dengan Jeffrey Winters dan Brad Simpsons yang membuat desertasi atas hubungan Indonesia-Amerika era 60an sampai 70an. Banyak fakta dalam desertasinya yang diambil dari dokumen resmi CIA yang sudah tidak rahasia lagi (kadaluwarsa kerahasiaannya setelah 40 tahun).

“Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’, hasil tangkapannya dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang pengambil alihan Indonesia. Para pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili : perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut ‘ekonom-ekonom Indonesia yang top’. Di Jenewa, Tim Sultan terkenal dengan sebutan ‘the Berkeley Mafia’, karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, Sultan menawarkan : .. buruh murah yang melimpah..cadangan besar dari sumber daya alam … pasar yang besar. Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor. Mereka membaginya ke dalam lima seksi : pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan : ini yang kami inginkan : ini, ini dan ini, dan mereka pada dasarnya merancang infra struktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia. Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan para wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri. Freeport mendapatkan bukit (mountain) dengan tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger duduk dalam board). Sebuah konsorsium Eropa mendapat nikel Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapat bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang dan Perancis mendapat hutan-hutan tropis di Sumatra, Papua Barat dan Kalimantan. Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan buru-buru disodorkan kepada Soeharto membuat perampokan ini bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Nyata dan secara rahasia, kendali dari ekonomi Indonesia pergi ke Inter Governmental Group on Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya adalah Amerika Serikat, Canada, Eropa, Australia dan, yang terpenting, Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia.”

Indonesia sebelum 1965 membuat khawatir negara-negara ‘Barat’ karena secara finansial tidak tergantung kepada investasi asing, hal yang diinginkan oleh ‘barat’ seperti yang terjadi pada beberapa negara Amerika Latin. Dalam Geopolitik secara global, Indonesia dengan Soekarno juga mempelopori gerakan alternatif antara dua pilihan kiblat politik (Amerika dan Rusia/Soviet), dan menjadi pemimpin yang disegani bagi negara-negara berkembang di Asia Pasifik bahkan Amerika Latin dan Afrika. Dalam tatanan Perang Dingin ketika itu, jelas kondisi Soekarno sangat membuat gelisah Amerika. Kegelisahan Amerika menjadi-jadi ketika Soekarno dianggap cenderung ke ‘kiri’ pada awal 60an. Amerika sendiri berusaha membuat Indonesia tidak stabil dengan salah satu cara memasok senjata untuk Permesta untuk memberontak pada Pemerintah Pusat. Amerika setelah kekalahan yang memalukan dari Vietnam sadar dan paham bahwa Indonesia tidak akan bisa ditaklukkan oleh kekuatan militer, maka dirancanglah suatu misi intelijen oleh CIA untuk menggulingkan Soekarno dan kekuatan-kekuatan progressif, yang dikemudian hari diduplikasi di Chili dalam operasi yang hampir sama dengan nama sandi ‘Operasi Jakarta’. Dalam dokumen CIA tersebut, operasi Jakarta terhitung sangat berhasil sehingga diistilahkan ‘menang tanpa meneteskan darah sedikitpun’. Kutipan di awal tulisan ini adalah kondisi keadaan ketika konferansi untuk pertama kali diadakan antara pemerintah RI dan investor-investor asing di Jenewa tahun 1967, setahun setelah pemerintahan Orde Baru terbentuk. Soeharto telah meyakinkan Amerika sebelumnya bahwa ia akan bersahabat dengan negara-negara ‘barat’ dengan cara membuka pintu yang selebar-lebarnya bagi investasi asing. Dan itu ia penuhi. Konsesi-konsesi atas pengelolaan kekayaan alam Indonesia diserahkan kepada investor asing tanpa pajak dengan pembagian keuntungan yang sangat kecil untuk pemerintah, dalam waktu kontrak 20 tahun sampai 40 tahun bahkan. Disusun pula suatu rancangan perundang-undangan penanaman modal asing yang sangat merugikan bangsa Indonesia. Penjabaran pasal 33 UUD 1945 awalnya diatur dalam UU no. 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing yang menyebutkan beberapa bidang-bidang usaha yang tertutup untuk penenaman modal asing secara pengusahaan penuh ialah bidang-bidang yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup rakyat banyak sebagai berikut: a. pelabuhan-pelabuhan; b. produksi, transmisi dan distribusi tenaga listrik untuk umum; c. telekomunikasi; d. pelajaran; e. penerbangan; f. air minum; g. kereta api; h. pembangkit tenaga atom; i. mass media (pasal 6 ayat 1). Dalam Undang-undang tersebut juga diatur bahwa kepemilikan asing tidak boleh lebih dari 5%. Salah satu ekonom yang juga pernah hadir di KenduriCinta, Kwik Kian Gie menulis, “Setahun kemudian, UU no. 68 mengulangi lagi kata-kata krusial dari pasal 33 UUD tersebut, lengkap beserta rincian konkretnya dari cabang-cabang produksi dari a sampai dengan i yang persis sama dengan UU no. 1 tahun 1967, tetapi asing sudah boleh memiliki 49 %. Peraturan Pemerintah nomor 20 tahun 1994 mengulangi lagi kalimat krusial dari UUD 1945, yang juga dilengkapi dengan rincian konkret dari cabang-cabang produksi a sampai dengan i. Tetapi dalam PP tersebut ditentukan bahwa asing boleh memiliki, menguasai, mengelola sampai 95 %. Belum lama yang lalu, Menko Perekonomian Aburizal Bakrie menyelenggarakan apa yang dinamakan Infra Struktur Summit. Dalam kesempatan itu beliau mengumumkan bahwa Kabinet Indonesia Bersatu membolehkan asing memiliki 100 % dari cabang produksi apa saja. Tidak lama setelah itu Meneg BUMN juga menyelenggarakan apa yang dinamakan BUMN Summit, yang mengumumkan bahwa pada dasarnya pemerintah tidak dibenarkan memiliki unit usaha. Maka privatisasi akan dijalankan terus. Bukan semata-mata karena pemerintah perlu uang, tetapi atas dasar prinsip dan school of thought.Pengadaan infra struktur tidak lagi oleh pemerintah dengan pendanaan dari pajak, tetapi diserahkan kepada pemodal swasta yang akan mengambil keputusan membangun infra strutkur atau tidak atas dasar perhitungan rugi/laba. Maka pengguna infra struktur akan dikenakan bayaran yang dinamakan tol, dan harganya harus dapat memberi keuntungan yang memadai kepada investornya. Sedikit banyaknya, kenyataan ini akan memberi andil dalam membuat ekonomi Indonesia menjadi high cost economy. Rakyat Indonesia harus membayar BBM dengan harga yang ditentukan oleh New York Mercantile Exchange (NYMEX). Maka harga BBM dinaikkan secara drastis. Dasarnya UU Migas yang menentukan bahwa harga BBM ditentukan oleh mekanisme pasar. Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa ketentuan tersebut bertentangan dengan pasal 33 UUD kita. Tetapi diabaikan oleh pemerintah tanpa ada yang berdaya.”

Mengapa Investasi Asing menjadi suatu ancaman?
Dalam kondisi yang berlebihan tentu tidak baik. Pada dasarnya tidak ada negara Kapitalis, yang ada adalah negara kapitalistik, negara yang tingkat liberalisasi/kebebasan pasarnya tinggi atau sangat tinggi. Amerika sendiri menerapkan proteksi yang kuat bagi banyak industri dalam negerinya. Industri otomotif Jepang contohnya diharuskan menggunakan komponen lokal buatan industri dalam negeri Amerika bahkan sampai 80% jika hendak masuk ke pasar Amerika. Hal ini dilakukan untuk memperkuat industri kecil manufaktur Amerika. Kalau pasar bebas diterapkan sepenuhnya, tentu industri otomotif Amerika akan kalah bersaing dengan merek-merek Jepang. Contoh lain yang sederhana adalah industri olahraga bolabasket Amerika (NBA), dalam sistem gaji pemain NBA diterapkan batas maksimum dan minimum, maka sehebat-hebatnya Michael Jordan, tetap gajinya dalam batasan maksimal yang sudah ditetapkan. Hanya harga kontrak iklan-iklannya yang sangat tingga hingga ia menjadi atlet terkaya saat itu. Bandingkan dengan industri sepakbola Eropa yang kapitalistik, sehingga seorang Kaka -pemain AC Milan- ditawar dengan harga 3,8 triliun rupiah dengan gaji 5 milyar rupiah setiap bulan, hal yang kemudian dikritik sangat keras sebagai ‘perdagangan manusia’ oleh Paus. Dalam kondisi tertentu, NBA menjadi lebih stabil dan terkendali, sedangkan sepakbola Eropa sangat timpang antara klub yang kaya dan yang miskin. Sama kan dengan kondisi ekonomi kita sekarang? Hal tersebut terjadi juga di sektor industri baja, pertanian, perkebunan, perbankan dll. Jika kita pergi ke supermarket, tampak harga ‘apel malang’ lebih mahal dari ‘apel australia’, aneh bukan? yang produk lokal lebih mahal dari produk import, hal itu dikarenakan pupuk buat petani apel di australia disubsidi oleh pemerintahnya sehingga bisa lebih murah biaya produksinya, dan bea masuk import untuk banyak produk luar negeri sangat rendah bahkan nol persen untuk beberapa produk perdagangan. Semua dilakukan atas nama pasar bebas dan liberalisasi.

Amangkurat dan politik ekonomi jawa

Kunci keberhasilan Belanda dalam membangun perdagangan komersial di Indonesia adalah terlibatnya VOC dalam politik internal Jawa saat itu. Pada masa-masa awal, Gubernur Jenderal tidak dimaksudkan untuk terlibat dalam politik di Jawa. Mereka diberi visi manajerial perusahaan terutama manajerial dalam kekuatan utama dalam bidang kelautan, jaringan pelabuhan dan dititik beratkan pada penguasaan rute-rute perdagangan. Tetapi pada abad ketujuh belas, terutama pada abad delapan belas, Belanda terlibat sangat dalam pada peta perpolitikan jawa saat itu. Bahkan pada waktu tertentu, Belandalah yang menentukan siapa raja yang berkuasa dan yang dijatuhkan, bahkan beberapa kerajaan diharuskan membayar upeti kepada Belanda. Kondisi demikian membuat perekonomian Belanda tertumpu pada perdagangan di Jawa, hingga Perang Diponegoro saat itu membuat kerajaan Belanda krisis keuangan yang sangat parah.

Di bawah pemerintahan Sultan Agung (1613-1645), kerajaan Mataram menjadi kerajaan terbesar di Jawa dan Nusantara ketika itu. Sultan Agung tidak mau tunduk pada Kompeni, sehingga sampai menyerang Batavia dua kali meski tidak sampai membuahkan hasil. Perjalanan pasukan Sultan Agung dari Mataram ke Batavia sendiri merupakan suatu ekspedisi yang sangat sulit saat itu, mengingat kondisi geografis jawa yang masih hutan belantara dengan membawa pasukan yang sedemikian besarnya bergerak ke arah barat. Hingga sekarang benteng pertahanan Mataram di Batavia dapat kita lihat di daerah Matraman -yang berasal dari kata Mataraman- di daerah Jakarta Pusat. Sultan Agung yang sudah memberikan warisan berupa daerah kekuasaan yang sangat luas, digantikan oleh Amangkurat I. Amangkurat I adalah pribadi yang lemah dan mudah dihasut. Pemberontakan Trunojoyo dan kondisi internal kerajaan yang carut marut membuat Amangkurat I (1646-1677) bekerjasama dengan Dutch East Indies Companies (VOC) untuk pertama kalinya dalam catatan sejarah. VOC mengirim Admiral Speelman untuk membantu Mataram melawan pemberontakan Trunojoya di Jawa bagian Utara dan Madura. Pada 25 Februari 1677, kompensasi dari bantuan VOC saat itu, VOC membuat perjanjian (treaty) monopoli dengan Mataram untuk memperluas wilayah Batavia lebih luas ke timur, VOC dapat mendirikan pabrik dimanapun tanpa larangan dan bebas pajak untuk melakukan ekspor dan impor, Mataram juga diharuskan melarang golongan Melayu, Arab dan lainnya untuk menggunakan pelabuhan dan lainnya untuk kepentingan perdagangan.
Setelah Amangkurat I mangkat, digantikan oleh salah satu anaknya, Amangkurat II (1677-1703). Ada beberapa cerita bahwa seharusnya yang menggantikan Amangkurat I adalah Pangeran Puger, anak dari salah satu istrinya, namun karena intrik dan dukungan VOC yang kuat maka Raden Mas Rahmat lah yang akhirnya menjadi raja Mataram bergelar Amangkurat II. Pada masa Amangkurat II, justru makin menjadi-jadi, VOC diberi monopoli atas perdagangan gula, opium, beras dan textile di teritori Mataram sebagai kompensasi atas dukungan militer VOC dalam usahanya mempertahankan kekuasaaan. Amangkurat II juga memberikan konsesi kepada VOC atas distrik Priangan sebelah selatan Batavia. Pada masa berikutnya, putra mahkota Banten memberontak pada ayahnya, dimana ia juga akhirnya membuat konsensus dengan VOC, sehingga sedikit-demi sidikit tidak ada lagi kedaulatan di tanah Jawa.

Garuda Nusantara

Naskah dalam Tikungan Iblis karya Emha Ainun Nadjib, dikisahkan mengenai sosok Garuda yang lambat laun makin tidak mengenali hakekat dan karakter dirinya semenjak kakeknya, cicitnya dahulu dimasukkan ke dalam sangkar. Jika meskipun Garuda itu dilepaskan dari sangkarnya, ia pun sudah lupa bagaimana terbang dan mencari makan. Tantangan terbesar kita sebagai bangsa yang pernah besar dan gagah perkasa, bukan lagi mengenai kejahteraan, agenda politik dan ekonomi, bukan juga menaikkan pendapatan per kapita, namun lebih mendasar, yaitu membangun integritas dan karakter. Menunjukkan kejayaan Nusantara sebagai mercusuar peradaban dunia. Dan kita mampu untuk itu, parameter dunia saat ini adalah demokrasi, dan kita sudah membuktikan sebagai negara demokrasi terbesar di dunia, negara yang membiayai demokrasi paling mahal di dunia. Padahal kita sendiri sebenarnya belum niat-niat amat untuk mencapai itu. (ron)

-disarikan dari berbagai sumber, untuk pemahaman kembali naskah tikungan iblis-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s