proposisi

Melihat gerombolan pengendara motor yang berbaju putih dan berpeci menerobos rambu lalu lintas, menggoda saya untuk menulis mengenai fenomenologi “Keselamatan dan Keamanan.” Saya yakin mereka yang bergerombol itu orang beragama, minimal karena mereka menampakkan keber-agama-annya.

Atau mereka sedang mengajari kita, bahwa “jangan melihat aku seorang yang beragama hanya karena penampilanku.” Itu juga mungkin yang menjelaskan kenapa seorang pemburu hantu mestilah berjubah putih dan bersorban ketika masuk televisi, meskipun tanpa itu semua dia tetap sakti sanggup mengendalikan hantu dan jin.

Yang menarik, gerombolan saudara-saudara kita sesama manusia itu, tidak mengindahkan rambu-rambu lalu lintas, seperti kewajiban memakai helm dan berhenti ketika lampu kecil di pojok jalan itu berwarna merah. Apa mereka termasuk golongan anarkis, konsep kelompok yang percaya bahwa manusia dapat mengatur dirinya sendiri tanpa adanya suatu otoritas negara? Perdebatan konsep anarkis menjadi hangat ketika Thomas Rainsbourgh dan Oliver Cromwell di masa Perang Sipil di Inggris. Tentu saja itu terlalu jauh.

Sangat mungkin, saudara-saudara kita itu berbeda konsep mengenai KESELAMATAN dengan kebanyakan kita. Bagi mereka, Keselamatan adalah hak prerogatif Tuhan – meski oleh negara, hak ini akhirnya diberikan juga ke seseorang yg berjabat Presiden. Kenapa menjadi hak Tuhan? Karena mereka selalu berdoa dengan kalimat, “Ya Tuhanku, berilah kami Keselamatan.” maka ketika ada manusia yg berseragam (polisi) menanyakan, “Kenapa anda tidak memakai helm? Itu kan untuk keselamatan anda sendiri” Ia menjawab, “Untuk apa? Yang menyelamatkan saya adalah Tuhan, bukan bapak.”

Memang, saudara-saudara kita ini tidak ingin membuat Tuhannya cemburu. Tidak seperti kita yg mengaku modern, yang menyematkan banyak kata permintaan untuk Tuhan tapi di lain waktu meminta juga dengan kata yang sama kepada sesuatu/seseorang yang bukan Tuhan. Manusia memohon Keselamatan ke Tuhan, tapi para pejabat dan politisi sering mengucap, “Saya melakukan ini untuk menyelamatkan perekonomian bangsa, menyelamatkan rakyat Indonesia”. Sungguh paradoks.

Pengalaman ini makin meyakinkan saya, bahwa negara dan pemerintah tidak perlulah repot-repot menyelamatkan manusia Indonesia, yang mesti dilakukan negara adalah mengamankan rakyat Indonesia. Mengamankan pangannya, mengamankan kesejahteraannya, mengamankan kedamaiannya. Itulah Islam, mengamankan. Muslim adalah seseorang yang memberi rasa aman kepada sekelilingnya.

Metode kedua yang tepat dalam mendekati manusia Indonesia adalah ketertiban dan keteraturan. Maka, janganlah membuat poster “Pakailah Helm Agar Selamat” percayalah, manusia Indonesia tidak perlu keselamatan dari manusia yang lain. Tulis saja “Pakailah Helm Untuk Keamanan Anda” atau “Pakailah Helm Atau (saya) Tilang”

Pendekatan Keamanan, Ketertiban dan Keteraturan akan sangat tepat bagi orang Indonesia, khususnya bagi gerombolan si Putih yang lewat depan saya ini. Jadi Polisi tidak perlu berdebat dengan mereka tentang konsep Keselamatan, cukup langsung ditilang saja jika tidak memakai Helm.

Saya juga makin setuju Safety Belt diterjemahkan menjadi Sabuk Pengaman daripada Sabuk Keselamatan.

Dan terbukti, semua orang mematuhinya, persis sama dengan thesis saya diatas, kan?

About these ads

Keselamatan Dan Keamanan

Aside