Teknologi (dan) Membaca

Posted on August 17, 2010


Bagi para penulis (blogger, kolumnis) internet dianggap ‘berkah’ yang dikirimkan dari ‘langit’. Riset yang dulunya membutuhkan waktu berhari-hari, setumpuk data, statistik dan buku-buku dari perpustakaan, saat ini bisa didapatkan beberapa jam saja dengan bantuan ‘mbah Google’. Internet menjadi media universal, diterima semua kalangan, ibarat kanal besar yang membawa arus informasi, masuk melalui telinga dan mata, lalu ke alam pikir bahkan rasa. Satu dari banyak manfaat diperoleh dari akses luas teknologi informasi ialah kekayaan data informasi yang bisa mudah diperoleh dan terdiskripsi luas.

Decoder of Information

Media itu sendiri pada dasarnya bukan sekedar lorong-lorong informasi yang bersifat pasif. Media tidak hanya menyuplai produk pemikiran, melainkan juga membentuk proses pemikiran itu sendiri. Internet sebagai media pun mempunyai kecenderungan sama dalam mengurangi kapasitas otak untuk hal konsentrasi dan kontemplasi, sebab otak telah terbiasa mendapatkan informasi yang cepat, luas dan relatif dianggap akurat.

Maryanne Wolf, seorang psikolog asal Tufts University, dalam bukunya Proust and The Squid: The Story and Science of the Reading Brain, mengatakan “We are how we read”Wolf dalam bukunya, mengkhawatirkan pola membaca yang ditawarkan selama ini oleh dunia maya (internet),  ketika efisiensi dan kecepatan ditempatkan diatas segalanya, memberi dampak buruk dalam mengurangi kapasitas  daya membaca atau intrepretasi atas suatu teks. Internet membuat manusia akhirnya lebih hanya menjadi semacam alat dekoder.

Berbeda dengan keterampilan berbicara, kemampuan membaca sebenarnya bukan indera yang tertanam pada manusia sejak lahir. Manusia harus belajar dalam waktu tertentu untuk mengintrepretasikan suatu karakter-karakter simbol ke dalam pikirannya. Teknologi pada media yang kita pakai sebagai sarana membaca, sangat mempengaruhi bentukan sirkuit saraf-saraf yang ada pada otak kita. Kata lainnya, sirkuit-sirkuit ‘membaca’ pada saraf di otak tidak terbentuk sama secara genetis, tapi terbentuk berbeda sesuai dengan proses masing-masing manusia.

Pada simbol idiogram, semisal pada tulisan huruf Cina, menumbuhkan sirkuit saraf ‘membaca’ yang berbeda dari kelompok orang yang membaca simbol alfabet. Bentukan saraf pada otak mereka pada akhirnya menjadi input karakter yang nantinya menjadi salah satu faktor bentukan budaya masyarakatnya. Hal ini akan menjadi satu contoh perbedaan yang bisa terjadi dari kebiasaan membaca langsung dari layar internet dan membaca langsung dari media cetak.

Otak manusia terbuat dari materi yang sangat lentur, ia tidak -seperti pemahaman kebanyakan orang- menjadi padat ketika menginjak usia dewasa. Banyak neuro sciencist membuktikan perihal ini, bahwa otak manusia teruji sangat lentur dan sangat plastik. Umur manusia tidak menjadikan struktur otak manusia menjadi lebih mapan dan tahan atas perubahan. Sel-sel saraf didalam otak secara rutin rusak dan terbentuk baru setiap waktu. Otak mempunyai kemampuan memprogram dirinya sendiri sesuai dengan input dan fungsi yang diperlukan.

Scientific Mind into the Scientific Man

Perubahan pola teknologi komunikasi pada akhirnya akan mengubah pola ‘teknologi’ intelektual manusia. Teknologi intelektual merupakan suatu alat (tool) yang dapat merubah struktur pikir bahkan mental, bukan pada fisik kita. Sebagai contoh, perubahan yang terjadi pada awal  abad 14 ketika era industrialisasi berkembang pesat di Eropa. Perkembangan sains dan industri mekanik mendorong manusia pada zaman itu mempunyai pola berpikir secara mekanis juga. Joseph Weizenbaum, seorang computer scientist, dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1976, Computer Power and Human Reason: From Judgment to Calculation,  konsepsi waktu mekanis yang menyebar ke seluruh dunia era itu, telah merubah banyak pola kehidupan pada masyarakatnya. Untuk memutuskan kapan hendak makan, bekerja, tidur dan bangun, manusia tidak lagi mendengarkan perasaan (feel) dan pikiran (sense) lagi, namun lebih mentaati waktu atau jam. Waktu yang mulanya dibagi berdasarkan kerangka yang abstrak, berubah menjadi suatu acuan referensi yang utama untuk tindakan, aktifitas bahkan pikiran manusia.

Proses adaptasi otak terhadap teknologi ntelektual yang baru tersebut, merefleksikan secara metaforis, bahwa telah terjadi perubahan pola hidup manusia secara mendasar (baca: mekanis) pada era itu sesuai dengan perkembangan teknologi yang terjadi. Beberapa abad lalu, otak manusia diibaratkan sebagai mesin mekanik. Pada era internet saat ini, otak manusia diibaratkan sebagai super komputer. Kemampuan sel-sel saraf pada otak yang bersifat adaptif (lentur dan plastik) juga turut mendorong perubahan-perubahan yang terjadi pada masa-masa setelahnya.

Internet pada era saat ini telah sublime menjadi teknologi intelektual terbaru manusia. Internet bukan hanya sekedar sumber berita, namun telah menjadi waktu, peta, komunikasi, surat, radio dan bahkan televisi kita.

Ruang Diam sebagai Media Kontemplasi

Kedatangan teknologi mesin cetak Guttenberg pada abad ke 15, awalnya juga menumbuhkan rasa skeptis pada masyarakat Eropa. Lembaran-lembaran tulisan yang diproduksi secara massif, dianggap merusak tatanan budaya bahkan eksistensi pemahaman institusi agama. Kekhawatiran tersebut tidak mampu menghalangi pertumbuhan teknologi tersebut, bahkan semakin masif seiiring dengan berkembangnya era industrialisasi.

Kekhawatiran yang tumbuh pada masyarakat kita (di Indonesia) terhadap perkembangan internet, seyogyanya ditempatkan sebagai pemicu kesadaran kemanusiaan kita. Meski hampir menggantikan posisi media cetak, internet tetaplah bukan ‘alfabet’ dan bentukan dari kedua media itupun tetaplah akan berbeda. Metode membaca perlahan dan dalam (deep reading) pada media cetak, tetap memberi nilai lebih, bukan saja serapan pengetahuan yang kita akan dapatkan dari penulisnya, kita juga ikut merasakan getaran intelektual dari huruf-huruf yang terbaca yang kemudian dikirimkan ke otak kita. Membaca dalam kondisi diam, tenang, tidak terganggu, dapat menjadi salah satu metode kontemplasi yang sangat berguna bukan saja bagi intelektualitas namun juga spiritualitas. Ruang diam yang membentuk asosiasi, menggambar imajinasi, menumbuhkan ide dan analogi pada diri kita sendiri, adalah konsep yang tidak dapat tergantikan media internet. Jika kita telah kehilangan ‘ruang diam’ tersebut dan mengisinya dengan yang lain, kita akan kehilangan sesuatu yang sangat penting, tidak saja bagi diri kita sendiri, juga secara luas bagi kebudayaan peradaban kita. (ron)

Advertisement
Posted in: Uncategorized